Minggu, 25 April 2010

Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 16.25 | No comments

Tanah adalah akumulasih tubuh alam bebas


PENDAHULUAN
Latar Belakang

Menurut Donahue (1970) Tanah adalah akumulasih tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Tanah merupakan system multi komponen terdiri dari padatan, cairan, dan gas. susunan sifat kimia fase cair dan udarah tanah tergantung interaksinya dengan padatan tanah.
Susunan kimia pada tanah sebenarnya sangat bervariasi , tergantung dari masing-masing faktor antara lain bahan induk tanah, proses pembentukanya, keadaan iklim, bentuk wilayah dan sebagainya.
Untuk memproduksi tanaman secara optimal maka tanah harus memenuhi syarat kimia, fisika dan biologi secara seimbang, selain itu tanah harus cukup mengandung unsur Nitrogen, Phosphor, dan Kalium serta memiliki PH yang netral.
Apabila tanah yang akan di tanami tidak menjamin ketersediaan hara yang cukup, maka harus dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat tergantung pada kesuburan tanah dan dapat di berikan secara bertahap. Sebagai pertimbangan sebelum melakukan pemupukan maka harus melakukan penentuan kondisi tanah dengan analisis sidik cepat, semua kegiatan tersebut di lakukan untuk meningkatkan kualitas produksi tanaman yang baik. Dengan adanya kegiatan analisis sidik cepat ini maka penambahan unsure N, P, dan K tepat dan efisien serta rama terhadap lingkungan.
Bilman W. Simanihuruk dan kawan-kawan melaporkan, Untuk meningkatkan produksi tanaman, menggunakan pupuk buatan yang berlebihan bukanlah satu-satunya alternative. hal ini di sebabkan oleh tingginya harga pupuk anorganik, selain itu juga pupuk anorganik yang berlebihan dapat meracuni lingkungan dan bahkan meninggalkan residu. oleh karena itu untuk kepentingan efisiensi penggunaan pupuk maka perlu melakukan sidik kadar NPK dan PH tanah, agar dalam pemberian dosisnya tepat, sesuai dengan kebutuhan per areal lahan produksi pertanian.

TINJAUAN PUSTAKA

Bersama unsure fosfor (P) dan Kalium (K), Nitrogen (N) merupakan unsur hara yang mutlak dibutuhkan oleh tanaman. bahan tanaman yang sering mengandung sekitar 2% sampai 4 %; jauh lebih rendah dari kandungan C yang berkisar 40%. Namun hara N merupakan komponen protein (asam amino) dan klorofil, bentuk ion yang diserap oleh tanaman umumnya dalam bentuk NO3- dan NH4+ bagi tanaman padi sawah (Russll,1973)
Sanhez megel (1976) dan Kirkby, (1982).Begitu besarnya peranan N bagi tanaman, maka persediaannya sangat diperhatikan sekali oleh para petani. Sumber bahan N utama berasal dari bahan organik, melalui prosese mineralisasi NH4+ dan NO3-. Selain itu N juga dapat bersumber dari atmosfer ( 78% NV melalui curah hujan (8-10 % N tanah) penambatan (fiksasi) oleh mikroorganisme tanah baik secara sembiosis dengan tanaman maupun hidup bebas. walaupun sumber ini banyak secara alami, namun untuk memenuhi kebutuhan tanaman maka dapat diberikan dalam bentuk pupuk, seperti urea, ZA, dan sebagainya maupun dalam bentuk pupuk kandang ataupun pupuk hijau.
Untuk pertumbuhan vegetatif yang cepat tersebut tanaman memerlukan zat N yang cukup banyak. Zat N ini dapat diberikan melalui bahan organik, atau pun bahan anorganik dalam bentuk sabuk ZA (zwavelzure ammonia) maupun Urea. Kurangan zat N nampak pada daunnya yang menguning, dan pertumbuhannya yang tidak subur ( Hillel, 1980)
pupuk kandang atau kompos harus diberikan sebelum tanam, sebagai rabuk dasar. Untuk tiap-tiap ha, tanaman papaya diperlukan tidak kurang dari 50 ton.
Zat ini penting sekali bagi pembentukan bunga dan untuk mempercepat masaknya buah (pertumbuhan generatif). Zat ini selain penting bagi pertumbuhan generatif, penting pula untuk pertumbuhan akarnya, sehingga tanaman yang mendapat cukup zat P dapat lebih tahan terhadap kekurangan air.
Zat P mempunyai sifat mudah diserap oleh tanah, sehingga tidak mudah diserap oleh akar papaya. Dalam ilmu pemupukan gejala ini disebut “fixasi zat fosfat”. Dengan adanya gejala tersebut, maka zat fosfat harus ditempatkan sedekat-dekatnya dengan akar, terutama pucuk akar, dan jangan disebarkan secara merata. Penyebaran secara merata ini akan mengakibatkan zat fosfat lebih mudah dipixir. Penempatan rabuk fosfat yang baik adalah dengan cara memasukannya dalam lubang yang ditugalkan dalam tanah (Tilman dan Scotes, 1991).
Zat Kalium dalam tanaman yang mempunyai fungsi sangat luas dalam pemupukan tanaman tidak boleh diabaikan. Zat ini mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan zat karbohidrat/gula buah, dan memberi daya tahan terhadap kekeringan pada tanaman. Selanjutnya kualitas/lezatnya buah tidak sedikit dipengaruhi pula oleh zat kalium. Akhirnya dalam perabukan yang lengkap dalam arti kata yang seimbang, rabuk kali merupakan pelengkap agar zat-zat lainnya terhisap oleh akar dengan sebaiknya-baiknya. hal ini minta diperhatikan benar-benar karena bilatanaman dipupuk dengan zat N yang berlebihan tanpa ada imbangan dari zat kalium, akibatnya tanaman daunnya terlalu rimbun dan buahnya mengurang. Tanaman yang kebanyakan zat N (stikstop) kebanyakan tidak tahan terhadap serangan penyakit, pertumbuhan akarnya kurang baik dan akhirnya kurang tahan untukmenghadapi kekeringan.
Sumber dari zat Fosfat dan Kalium selain bahan organis adalah rabuk:DS. (dubbelsuperfosfat) atau triplefosfat dengan kadar zat P 46%. Superfosfat mengandung 18% zat P. ZK (zwavelzure kali) mengandung 15% K. Abu berasal dari beberapa jenis kayu atau pun smpah mengandung pula zat Kalium dengan kadar 2-5% (Mukhlis dan Fauzi,2003)
Bahan organis selain menjadi sumber zat NPdan K merupakan bahan dalam pembentukan “humus” (bunga tanah) dalam tanah yang dapat menjamin tanah tetap cerul/remah, cukup mengandung udara dan tetap lembab
Keasaman dalam larutan itu dinyatakan sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau sebagai pH yang artinya –log [H+]. Dengan kata lain pH merupakan ukuran kekuatan suatu asam. pH suatu larutan dapat ditera dengan beberapa cara antara lain dengan jalan menitrasi lerutan dengan asam dengan indikator atau yang lebih teliti lagi dengan pH meter. pH berkisar antara 10-1sampai 10-12mol/liter. Makin tinggi konsentrasi ion H, makin rendah –log [H+] atau pH tanah, dan makin asam reaksi tanah. Pada umumnya, keasaman tanah dibedakan atas asam, netral, dan basa. Ion H+dihasilkan oleh kelompok organik yang dibedakan atas kelompok karboksil dan kelompok fenol. Tipe keasaman aktif atau keasaman actual disebabkan oleh adanya Ion H+dalam larutan tanah. Keasaman ini diukur menggunakan suspensi tanah-air dengan nisbah 1 : 1; 1 : 2,5; dan 1 : 5. Keasaman ini ditulis dengan pH (H2O).
Tipe keasaman potensial atau keasaman tertukarkan dihasilkan oleh ion H+dan Al3+tertukarkan yang diabsorbsi oleh koloid tanah. Potensial keasaman diukur dengan menggunakan larutan tanah-elektrolit, pada umumnya KCl atau CaCl2. Karena ion H dan Al yang diabsorbsi koloid tanah dalam keadaan seimbang (equilibrium)dengan ion H+dalam larutan tanah maka terdapat hubungan yang dekat antara kejenuhan (H+Al) dan pH, demikian juga dengan persentase kejenuhan basa pada pH. Tanah yang ekstrem asam dengan (H+Al) mendekati 100% kurang lebih mempunyai pH sama dengan asetat pH 3,5
Keasaman (pH) tanah diukur dengan nisbah tanah : air 1 : 2,5 (10 g tanah dilarutkan dengan 25 ml air) dan ditulis dengan pH2,5(H2O). Di beberapa laboratorium, pengukuran pH tanah dilakukan dengan perbandingan tanah dan air 1 : 1 atau 1 : 5. Pengukuran pada nisbah ini agak berbeda dengan pengukuran pH2,5karena pengaruh pengenceran terhadap konsentrasi ion H. Untuk tujuan tertentu, misalnya pengukuran pH tanah basa, dilakukan terhadap pasta jenuh air. Hasil pengukuran selalu lebih rendah daripada pH2,5 karena lebih kental dan konsentrasi ion H+lebih tinggi.
Pengukuran pH tanah di lapangan dengan prinsip kolorimeter dengan menggunakan indikator (larutan, kertas pH) yang menunjukkan warna tertantu pada pH yang berbeda. Saat ini sudah banyak pH-meter jinjing (portable)yang dapat dibawa ke lapangan. Di samping itu, ada beberapa tipe pH-meter yang dilengkapi dengan elektroda yang secara langsung dapat digunakan untuk pH tanah, tetapi dengan syarat kandungan lengas saat pengukuran cukup tinggi (kandungan lengas maksimum atau mungkin kelewat jenuh). Kesalahan pengukuran dapat terjadi antara 0,1 – 0,5 unit pH atau bahkan lebih besar karena pengaruh pengenceran dan faktor – faktor lain.
Untuk mengukur pH basa kuat di lapangan, indikator fenolptalin (2 g indikator fenolptalin dalam 200 ml alkohol 90%) yang tidak berwarna sangat bermanfaat karena akan berubah menjadi ungu sampai merah pada pH 8,3 – 10,0. Kondisi yang sama dalam pengukuran pH di lapangan pada kondisi luar biasa asam digunakan indikator Brom Cresol Green (0,1 g dilarutkan dalam 250 ml 0,006 N NaOH) yang berubah menjadi hijau sampai kuning pada pH 5,3 dan lebih rendah daripada 3,8.
Untuk mengetahui pH tanah di lapangan, secara umum dapat digunakan indikator universal (campuran 0,02 g metil merah, 0,04 g bromotimol blue, 0,04 g timol blue, dan 0,02 g fenolptalin dalam 100 ml alkohol encer (70%).

DAFTAR PUSTAKA

Hilel, D. 1980. Fundamentals of soil physics. Academi Press

Rusell, E.W. 1973. Soil condition and plant Growt 10th edition Longman. Blacwell scientific pulbl

Mukhlis dan Fauzi. 2003. Pergerakan unsure hara Nitrogen dalam tanah. Usu digital Library

Donahue, R. L,W. 1970. Soils an introduction to soil and plant growth. Prentice hall, inc. New Jersey


Bilman W. Simanihuruk, Abimanyu D. Nusantara dan Faradila.F. 2002.Peran EM5 dan Pupuk NPK dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis pada lahan alang-alang. Journal ilmu pertanian. vol 4, no. 1, hlm 56- `61

Widarto, Zainul Kamal dan Suroso. 2007. Penentuan kadar Unsur di dalam daun krenyu dengan metode analisis neutron cepat. Journal ISSN 1978-0176


http://agrica.wordpress.com pengukuran-ph-tanah/ di download pada hari sabtu 24 oktober 2009.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar