Rabu, 12 Mei 2010

Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 08.09 | No comments

tehnik budidaya tanaman padi,



1.1 Latar Belakang
Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berusaha, memenuhi kebutuhan primer yaitu makanan. Dalam sejarah hidup manusia dari tahun ketahun mengalami perubahan yang diikuti pula oleh perubahan kebutuhan bahan makanan pokok. Hal ini dibuktikan dibeberapa daerah yang semula makanan pokoknya ketela, sagu, jagung akhimya beralih makan nasi. Nasi merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mudah diolah, mudah disajikan, enak dan nilai energi yang terkandung didalamnya cukup tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap kesehatan.
Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat. Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi.
Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 °C. Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 -1500 m dpl.
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7.
Padi dibudidayakan dengan tujuan mendapatkan hasil yang setinggi-tinginya dengan kualitas sebaik mungkin, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan maka, tanaman yang akan ditanam harus sehat dan subur. Tanaman yang sehat ialah tanaman yang tidak terserang oleh hama dan penyakit, tidak mengalami defisiensi hara, baik unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Sedangkan tanaman subur ialah tanaman yang pertumbuhan clan perkembangannya tidak terhambat, entah oleh kondisi biji atau kondisi lingkungan.

1.2 Perumusan Masalah
Disetiap derah petani memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda dalam tehnik budidaya tanaman padi, hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan petani, penguasaan teknologi dan faktor – faktor iklim sangat erat kaitanya dalam kebiasaan petani dalam budidaya tanaman padi, praktikum seperti ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa agar bisa menggali ilmu langsung dari kebiasaan petani di lapangan.
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
1. Memberikan wahana aplikasi keilmuan bagi mahasiswa
2. Memberikan pengalaman dan melatih keterampilan mahasiswa dalam menganalisa intensifikasi teknologi budidaya padi.
1.3.2 Manfaat
Dengan mempelajari langsung melalui wawancara dengan petani memberikan pengalaman pada mahsiswa yang baik dan terjadi interaksi antara petani dan mahasiswa yang baik.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Beras merupakan makanan pokok seluruh rakyat Indonesia , bahkan banyak daerah yang pada waktu lalu penduduknya mempunyai makanan pokok selain beras misalnya Madura, Maluku, Papua dan lain-lain saat ini sudah pindah ke beras untuk dijadikan makanan pokoknya.
Bahkan saking minded-nya, banyak masyarakat kita yang berpendapat belum makan bila belum makan nasi. Salah satu sulitnya peningkatan produksi pangan khususnya padi adalah terjadinya penyempitan lahan pertanian subur terutama di pulau Jawa.
Sedangkan penambahan lahan pertanian lebih banyak dapat dilakukan pada lahan marginal yang kurang subur. Di sisi lain kebutuhan beras terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk. Dengan demikian, peningkatan produksi beras hanya cukup untuk mencukupi permintaan akibat pertambahan penduduk (mempertahankan konsumsi beras per kapita) tetapi tidak cukup memadai untuk menutup peningkatan konsumsi beras per kapita akibat peningkatan pendapatan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, alternatif yang paling memungkinkan adalah penggunaan varietas hibrida yang memanfaatkan gejala heterosis. Hasil padi hibrida ini dapat melebihi hasil varietas padi konvensional sebesar 30 % (Yuan,1994).
Heterosis tertinggi yang dapat dicapai pada penelitian di Indonesia sebesar 40,5% dengan menggunakan CIAMIS introduksi dan pemulih nasional (Satoto et al.,1994). Sedang dengan menggunakan pemulih IRRI, heterosis berkisar 1,19 – 49,38 % ( Suprihatno dan Satoto, 1996). Disamping itu salah satu upaya lain untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan tanam padi sistim Legowo. Dengan sistim Legowo, tanaman padi dapat berproduksi lebih tinggi karena adanya pengaruh dari tanaman pinggiran.
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur
19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7.
Dengan jarak tanam 25 x 25 cm per 1000 m2 sawah membutuhkan 1,5-3 kg. Jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50-60 gr/m2. Perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100, atau 1000 m2 sawah : 3,5 m2 pembibitan.
Benih direndam POC NASA dan air, dosis 2 cc/lt air selama 6-12 jam. tiriskan dan masukkan karung goni, benih padi yang mengambang dibuang. Selanjutnya diperam menggunakan daun pisang atau dipendam di dalam tanah selama 1 - 2 malam hingga benih berkecambah serentak.
Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 - 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, dilakukan penyemprotan POC NASA dengan dosis 2 tutup/tangki. Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.
Pemupukan seperti pada tabel berikut, dosis pupuk sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis. Khusus penggunaan Hormonik bisa dicampurkan dengan POC NASA kemudian disemprotkan ( 3-4 tutup NASA + 1 tutup HORMONIK /tangki ). Hasil akan bervariasi tergantung jenis varietas, kondisi dan jenis tanah, serangan hama dan penyakit serta gulma.
Benih dan persemaian Penggunaan benih benih padi hibrida dapat ditanam hanya satu kali tanam. Setiap kali penanaman harus menggunakan benih baru dan bersertifikat. Penggunaan padi benih hibrida dianjurkan 15-20 kg/ha untuk sistim tanam tegel, jika menggunakan sistem tanam jajar legowo, kebutuhan benih lebih banyak 30% atau 4,5-6 kig/ha Ada 31 varietas padi hibrida yang dianjurkan dan sudah dilepas oleh Deptan pada tahun 2006.
Tempat persemaian yang dipilih adalah yang mudah pengairannya dan pembuangan airnya, bebas hama dan jauh dari jalan raya. Bahan organik diberikan sebanyak 1 kg/m2 sebelum penyiapan lahan persemaian untuk menambah kesuburan dan memudahkan pertumbuhan benih. Luas persemaian adalah 1/20 bagian (5%) dari luas sawah, sehingga untuk 1 ha pertanaman diperlukan untuk luas persemaian adalah 500 m2. Tanah diolah, dicangkul dan dibajak, dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 7 hari kemudian dibuat bedengan dengan ukuran 10 m x 1,20m, dengan ketinggian 5-10 cm, dibuat parit antar bedengan dan keliling bedengan dengan ukuran lebar parit 30 cm dan kedalaman 30 cm. Dari luas 500 m2 dibuat 30 bedeng.
Benih direndam selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam hingga berkecambah 1mm, selanjutnya benih disebar merata dengan ekpadatan sebar 50-75 gr/ m2 Sehari sebelum sebar, persemaian dipupuk SP 36 sebanyak 5 gr/ m2 dan KCL 5 gr/ m2 .Setelah persemaian umur 10 hari, tambahkan pupuk Urea 10 gr/ m2 luas persemaian. Setelah sebar benih lebih baik ditabur secara merata dengan abu damen/sekam sampai benih tidak kelihatan, persemaian tidak usah diairi sampai benih tumbuh merata diatas abu damen/sekam, air dijaga tetap diparit/selokan untuk menjaga kelembaban. Keuntungan sistim ini dimaksudkan tumbuhnya benih dipersemaian lebih merata dan memudahkan pencabutan bibit sehingga mengurangi tenaga kerja.
Pada persemaian tanpa menggunakan abu damen/sekam sehari setelah sebar benih hingga hari ketujuh, masukkan air pada pagi hari hingga ketinggian 5 cm dan keluarkan air pada sore hari. Kemudian pada hari ke delapan dan seterusnya, ketinggian air dijaga 2-5 cm.
Setelah bibit umur 15-18 hari setelah sebar atau setelah berhelai 5-6 helai, bibit dipindahka tanamkan dilahan penanaman. Setelah periodik dilakukan pengamatan terhadap kemungkinan adanya organisme pengganggu tanaman (OPT).
Penyiapan lahan Tiga minggu sebelum tanam, lahan perlu digenangi air untuk melunakkan tanah. Tanah diolah secara sempurna yaitu dibajak 1 kali dengan kedalaman 20 cm dan masukkan semua gulma dan sisa-sisa jerami kedalam tanah agar dapat terdekomposisi. Menggenagi lahan selama 7 hari dalam keadaan macak-macak untuk mencegah lepasnya nitrogen dari tanah dan mempercepat proses pembusukan jerami dan gulma. Dibajak 2 (dua) dan digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah,. agar siap ditanami bibit padi. serta menjaga genangan air dilahan Memasukkan pupuk organik kedalam tanah dengan bajak atau garu. Setelah garu, diberi pupuk NPK sebagai pupuk dasar Untuk menekan pertumbuhan gulma, disemprot dengan herbisida pra tumbuh dan dibiarkan selama 7 hari/ sesuai dengan anjuran pemakaian herbisida tersebut.
Penanaman Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-18 hari setelah sebar, atau bibit telah berdaun 5-6 helai, dengan sistem tanam pindah (transplanting ) Menggunakan sistim tanam jajar legowo ( 20 cm x 12,5 cm ) x 40 cm (untuk lahan kurang subur) atau (20 cm x 15 cm) x 40 cm (untuk lahan subur). Populasi bibit dipersemaian lebih jarang daripada yang biasa dipraktekkan petani, sehingga pada umur 15-18 hari bibit padi telah mempunyai anakan. Tanam bibit pada kedalaman 2-3 cm. Pada waktu penanaman, anakan tidak boleh dipisah-pisahkan. Cara penanaman padi hibrida adalah satu tanaman per rumpun, bukan satu batang per rumpun. Sehingga bibit per rumpun dapat lebih dari satu batang apabila bibitnya telah beranak.
`Untuk mendapatkan populasi maksimal, setelah tanam dilakukan penyulaman terhadap bibit yang tidak tumbuh/ mati dengan bibit yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Penyulaman dilakukan maksimum satu minggu setelah tanam untuk mempertahankan populasi yang optimal.
Pemupukan Kesuburan tanah beragam antar lokasi karena perbedaan sifat fisik dan kimianya. Dengan demikian kemampuan tanah untuk menyediakan hara bagi tanaman juga ber beda-beda. Pemupukan dimaksudkan untuk menambah penyediaan unsur hara sehingga mencukupi kebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik, agar efisien, takaran pupuk hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan P dan K dalam tanah. Sedangkan untuk N takaran dan pemberian disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) Pemupukan dilakukan dengan cara menebar pupuk merata keseluruh areal tanaman. Pada saat pemupukan dan 3 hari setelah pemupukan saluran pemasukan dan pembuangan air ditutup.
Pengairan berselang difokuskan pada musimkemarau, sedangkan pada musim hujan hanya dilakukan didaerah yang pengairannya dapat diatur. Pengairan berselang adalah : Sewaktu tanam bibit, lahan dalam kondisi macak-macak.
- Secara berangsur-angsur lahan diairi setinggi 2-5 cm hingga tanaman berumur 10 hst. Pada fase ini penggunaan air sangat kritis dan untuk menghambat pertumbuhan biji gulma.
Lahan tidak diairi sampai 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari, kemudian diairi kembali setinggi 5-10 cm. Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari menjelang panen, lahan terus digenangi air setinggi 5 cm. Kekurangan air dari fase bunting sampai fase bunga dapat meningkatkan gabah hampa atau sebagaian gabah berisi. 10 hari menjelang panen lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen.
Pengendalian OPT Pengendalian Gulma Penyiangan dilakukan dengan manual atau landak/ osrok. Penyiangan I, dilakukan sedini mungkin, maksimal pada umur 18 hst (sebelum pemupukan II).
Penyiangan II, dilakukan jika masih banyak gulma yang tumbuh, dilakukan pada umur 30 hst (sebelum pemupukan III). Penyiangan III (mbrasak) dilakukan jika masih banyak gulma yang tumbuh, dilakukan pada umur 45 hst Rumput/gulma yang dicabut dibenamkan kedalam tanah (untuk menambah bahan organik)
Pengendalian Hama dan penyakit Tanaman (HPT) Pengamatan dilakukan setiap saat/ hari mulai dari persemaian hingga menjelang panen. Pada 3-5 hari sebelum menabur benih, dilakukan pengendalian hama tikus secara serempak. Upaya pencegahan dan pengendalian HPT dengan cara bijaksana mengacu pada konsep PHT. Hama yang perlu diwaspadai adalah wereng coklat, penggerek batang, tikus dan walang sangit sedangkan penyakit adalah Tungro hawar daun bakteri blast. Serangan burung menjelang panen perlu diwaspadai Jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan h/p padi.
Penanganan pasca panen merupakan kegiatan utama untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu beras. Dalam prosesnya pasca panen merupakan rangkaian yang luas dan kompleks yang tidak hanya ditentukan oleh masalah tehnis saja tetapi juga melibatkan masalah social dan ekonomi yang menyangkut berbagai sector dan disiplin.
Penentuan saat panen yang tepat didasarkan : 85% malai menguning, sebagaian daun bendera telah mongering Kerontokan gabah sekitar 25-30%, diukur dengan meremas malai dengan tangan. Kadar air mencapai 22-25% Umur optimal berkisar 30-35 hari setelah berbunga merata. Cara –cara panen anjuran :

1. lahan pertanaman dikeringkan dahulu 7-10 hari sebelum panen. 2. panen menggunakan sabit bergerigi, sehingga kapasitas pemanenan dapat dipercepat 20 jam per ha.. Sabit bergerigi 93 jam per Ha per orang sedangkan sabit biasa 113 jam (UGM,1984) 3. cara memotong padi dianjurkan sedekat dengan tanah, hasil panen diletakan diatas wadah/tikar/alas, kemudian dibawa ketempat perontokan dengan menggunakan wadah.
Cara perontokan menggunakan pedal tresher, menggunakan mesin perontok (power tresher)
Pembersihan dilakukan segera setelah perontokan dengan cara : pembersihan awal dilakukan disawah dengan menggunakan ayakan dari bambu/kawat agar kotoran atau sisa daun dan batang kasar terbuang. selanjutnya dengan menampi, dianginkan atau menggunakan blower. Untuk menekan serendah mungkin perlu menggunakan alas dari tikar, anyaman bambu, karung plastic dsb.
Tempat pengeringan : Alas yang baik dibuat dari semen dan dibuat bergelombang sehingga penyerapan matahari menjadi tinggi, permukaan lebih luas, aur hujan lebih cepat mengalir dan lantai dapat kering.
Cara pengeringan. dimusim kemarau dilakukan sbb : Ketebalasan lapisan gabah 5-7 cm,Setiap 1-2 jam sekali dilakukan pembalikan menggunakan kayu atau bamboo Waktu yang dianjurkan jam 07.00 pagi sampai dengan jam 16.00 sore terganyung cahaya matahari. Dimusim hujan gabah dihamparkan dengan ketebalan 2-3 cm,setiap 1-2 jam sekali dilakukan pembalikan, menggunakan kipas atau blower sebagai sinar matahari dapat digunakan lampu petromak, bahan baker sekam
Dalam penyimpanan yang perlu diperhatikan : Sifat dan mutu gabah,Kondisi gabah serta Bangunan tempat penyimpanan Anjuran-anjuran
Mutu bahan : gabah yang akan disimpan sebaiknya : dalam keadaan kering dengan kadar air maksimal 14%, bersih dari kotoran/gabah hampa maksimum 3 %, menggunakan karung yang baru , bila terpaksa menggunakan karung bekas harus direndam dulu dalam air panas sehingga hama mati dan kemudian dijemur sampai kering.


BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum “Intensifikasi Budidaya Padi” dilaksanakan pada hari kamis 30 April pada pukul 13.00 WIB, bertempat di Dusun Krajan Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan dan alat disesuaikan dengan kebutuhan kelompok tani setempat untuk pelaksanaan budidaya padi, misalnya benih yang ditanam, macam pupuk, alat pengolahan tanah, dan alat pemeliharaan tanaman dan pengendalian hama dan penyakit.
1. Alat tulis
2. Quesioner
3. Jas almamater
4. Kendaraan bermotor

3.3 Pelaksanaan dan Cara kerja
Langkah-langkah pelaksanaan cara kerja kegiatan praktikum adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa (praktikan) dibagi dalam empat kelas, dari masing-masing kelas dibagi dalam empat kelompok yang akan mempelajari teknik budidaya dari empat kelompok tani.
2. Sebagai objek praktikan adalah kelompok usaha tani padi Yang dianggap sebagai sampel dala populasi kegiatan praktikum.
3. Praktikan terjun langsung ke lapangan, kemudian meminta petani/ kelompok tani untuk menjadi responden dalam pengumpulan data.
4. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan diskusi dengan kelompok tani melalui pengisian kuesioner (data primer) maupun data dari studi pustaka, instansi terkait, dari penyuluh lapangan/ PPL (data sekunder).
5. Bentuk kuesioner terdiri dari teknik budidaya padi mulai dari pemilihan varietas, benih persemaian, persiapan dsan pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, irigasi, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut data-data yang didapat dari responden yang berasal dari Dusun Krajan Desa Kamal, Kec. Arjasa-Jember didapatkan bahwa,
Dalam jadwal penanamannya mereka melakukan pergiliran tanaman, mulai dari tanaman padi, padi dan jagung/tembakau. Bila musim kemarau tiba, saatnya petani melakukan pergiliran tanaman, dari padi ke jagung/tembakau. Selain itu pergiliran tanaman mempunyai fungsi khusus yaitu memutus siklus perkembang biakan hama dan penyakit tanaman selain itu untuk menekan terjadinya erosi dan mencegah terkurasnya unsur hara dari dalam tanah. Pergiliran tanaman diperlukan juga untuk mempertahankan dan memperbaiki sifat-sifat fisik dan kesuburan tanah. Ini terjadi bila sisa tanaman dijadikan kompos atau mulsa yang dibenamkan dalam tanah. Hal ini akan mempertinggi kemampuan tanah dalam menahan dan menyerap air, mempertinggi stabilitas dan kapasitas daya serap tanah. Varietas padi yang digunakanpun bermacam-macam tergantung dari kondisi lingkungan dan iklim, misalnya jenis padi yang biasa ditanam di daerah ini antara lain :
1. Padi Gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo,
suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah.
2. Padi Bojonegoro
3. Padi Ciherang
Sebenarnya Ciherang adalah hasil persilangan antara varietas IR 64dengan varietas lain. Sebagian sifat IR 64 juga dimiliki oleh Ciherang, termasuk hasil dan mutu berasnya yang tinggi sehingga disukai banyak orang, kelebihannya adalah Ciherang memiliki keunggulan dalam hal umur tanam yang pendek , hanya 80 – 96 hari saja atau tiga bulan sepuluh hari, sehingga mempercepat panen dan meningkatkan produksi padi. “Dengan perlakuan yang sama, jenis padi ciherang bisa menghasilkan 10 ton gabah kering panen per haektar atau delapan sampai sembilan ton gabah kering giling).
4. Padi Sinta Nur
Sintanur merupakan beras/padi varietas lokal yang dikembangkan
lewat perkawinan silang secara alami yang melibatkan benih varietas lokal. Persilangan tersebut yaitu antara varietas pandan wangi dan lusi. Pandan wangi dengan wanginya yang sangat khas dan lusi dengan sifat pulennya yang kentara. Persilangan varietas lokal ini bukan GMO (genetic modified organism) sehingga sangat aman untuk dikonsumsi.
Oleh karena itu beras organik (organic rice) Sintanur jika dimasak rasanya sangat enak. Wangi sekaligus sangat pulen. Beras organik sintanur bahkan lebih pulen daripada beras organik pandan wangi, dengan tingkat aroma wangi yang hampir dikatakan sama dan beras organik (organic rice) varietas sintanur ternyata tidak banyak dikenal orang. Padahal dari sisi rasa tidak kalah dengan beras organik (organic rice) varietas lain. Biasanya petani biasa membeli benih bersertifikasi pada kios-kios pertanian yang berada di daerah Kec. Arjasa.
Persemaian padi dilakukan dengan menyebar benih padi secara merata pada bedengan dengan kandungan air jenuh tetapi tidak menggenang. Dalam tiga atau empat hari benih telah berkecambah. Tanaman muda yang berumur tiga minggu siap dicabut dan dipindah ke lahan sawah. Budidaya padi lahan kering tidak memerlukan persemaian. Penanaman padi di sawah umumnya ditanam dengan jarak teratur. Yang paling popular di Pulau Jawa adalah berjarak 20 cm. Tanaman muda ditancapkan ke dalam tanah yang digenangi air sedalam 10 sampai 15 cm hingga akarnya terbenam di bawah permukaan tanah. Persemaian dilakukan dengan persemaian basah, yang luasnya untuk kurang lebih 1 Ha, adalah sebesar 100m persegi dengan menyediakan benih sebanyak 50-60 kg dengan daya perkecambahan sebanyak 80%. Pengolahan tanah untuk persemaian juga diperlukan untuk mengendalikan gulma dan menggemburkan tanah persemaian, menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisis, kemis, maupun biologis, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah terutama akan memperbaiki secara fisis, perbaikan kemis dan biologis terjadi secara tidak langsung. sehingga perakaran mudah terbentuk. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara kering yaitu dengan menggunakan bajak sapi, traktor, bahkan tenaga manusia. Kegiatan pengelolaan tanah dalam persemaian dilakukan dengan menggunakan cangkul, cangkul digunakan untuk menggali, membersihkan tanah dari rumput ataupun untuk meratakan tanah. Pada persemainan digunakan bedengan dengna ukuran 2mxam untuk mempermudah pengawasannya.Dalam persemaian juga ditemukan adanya jama ulat penggerek, namun petani mengendalikan dengan upaya pemberian pestisida jenis ‘desis’ untuk membasminya. Pemeliharaan dalam persemaian adalah dengan memberikan Urea (10 kg dalam 40 kg benih padi). Bibit yang dihasilkan dapat dipindahkan ke sawah pada umur 3 minggu (kira-kira 24 hari).
Sebelum memindah/menanam benih padi, sebaiknya dilakukan pengolahan tanah sawah terlebih dahulu, Pengolahan tanah dalam usaha budidaya pertanian bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisis, kemis, maupun biologis, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah terutama akan memperbaiki secara fisis, perbaikan kemis dan biologis terjadi secara tidak langsung. Kegiatan pengolahan tanah dibagi ke dalam dua tahap, yaitu: (1) Pengolahan tanah pertama (pembajakan), dan (2) Pengolahan tanah kedua (penggaruan). Dalam pengolahan tanah pertama, tanah dipotong, kemudian dibalik agar sisa tanaman dan gulma yang ada di permukaan tanah terpotong dan terbenam. Kedalaman pemotongan dan pembalikan tanah umumnya antara 15 sampai 20 cm. Pengolahan tanah kedua, bertujuan menghancurkan bongkah tanah hasil pengolahan tanah pertama yang besar menjad lebih kecil dan sisa tanaman dan gulma yang terbenam dipotong lagi menjadi lebih halus sehingga akan mempercepat proses pembusukan. Selain dengan traktor, pengolahan lahan juga bisa menggunakan tenaga ternak dan manusia, biasanya tergantung luas area yang akan ditanami. Bila dengan menggunakan ternah dilakukan 3x dalam waktu 6 hari, namun bila dengan tenaga mesin hanya dilakukan 1x dengan 1 hari saja. Dengan biaya rincian 10 orang @Rp. 20.000,00, 30 ternah @rp.30.000,00 , dan Rp. 650.000,00 untuk tenaga mesin.
Penanaman dilakukan dengan menanam bibit, tidak menggunakan tabela, karena tabela memiliki banyak kelemahan dan kekurangan, yaitu :
Namun disamping memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, sistem budidaya padi secara tabela ini juga memiliki beberapa kelemahan/kekurangan diantaranya
(a) Sistem tabela hanya dapat digunakan pada musim kemarau. Bila digunakan pada saat musim penghujan benih yang dimasukkan ke dalam lubang akan keluar dan tersebar kemana-mana menyebabkan jarak tanam menjadi tidak teratur.
(b) Dengan sistem tabela, karena air dimasukkan lebih awal pada saat akan membuat lubang, dapat menyebabkan biji-biji gulma berkecambah dan tumbuh lebih awal.
Bibit ditanam setelah berumur 24 hari dengan jumlah 2-3 benih dalam 1 lubang pertanaman dengan menggunakan sistem larikan (alur dengan kayu runcing) dengan jarak tanam 25cmx25cm. Tenaga kerja untuk penanaman yaitu 40 orang/hari hingga selesai tergantung luas area dengan upah @Rp. 15.000,00/hari. Biasanya tidak dilakukan penyulaman dalam penanamannya.
Pemupukan adalah menambahkan/menyediakan unsur hara untuk tanaman. Pemupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil pertanian. Anjuran pemupukan terus digalakkan melalui program pemupukan berimbang (dosis dan jenis pupuk yang digunakan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lokasi/spesifik lokasi, namun sejak sekitar tahun 1996 telah terjadi pelandaian produktivitas (leveling off) sedangkan penggunaan pupuk terus meningkat. Hal ini berarti suatu petunjuk terjadinya penurunan efisiensi pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati. Pupuk dasar yang digunakan biasanya SP-36 dan Phonska. Penggunaan pupuk organik juga telah mulai diterapkan oleh petani yang mulai berpikir agak maju dengan dosis 4kw/Ha dengan cara ditebar kemudian menanam benih padi. Pupuk Urea dan ZA juga digunakan masing-masing pada 15 dan 30 hari setelah penanaman dengan dosis 1,5kw/Ha. Petani juga ada yang menambahkan pupuk daun, yaitu pupuk anorganik yang ditambahkan untuk bertujuan agar unsur-unsur yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh daun atau untuk pembentukan zat hijau daun, namun sayangnya pupuk ini cepat menguap sehingga pelaksanaanya dilakukan pada pagi/sore saja. Biaya pemupukan ini jika dirata-rata mencapai angka Rp. 1.500.000,00.
Sawah di Daerah ini menggunakan sistem irigasi yang dilakukan dengan cara penggenangan sawah secara terus menerus, namun diperlukan pengeringan setelah 50 hari penanaman, hal ini dilakukan agar anakan yang dihasilkan lebih banyak. Pengairan dilakukan dengan bantuan mesin diesel untuk mempermudah kerja petani. Biaya untuk irigasi ini adalah sekitar Rp. 15.000,00/hari. Permasalah terkait adalah adalah musibah kekeringan (di Desa Kamal ini pernah terjadi kekeringan sekitar tahun 2007 silam).
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Gulma yang dominan di daerah ini, petani biasa menyebutnya ‘komes’ dan ‘rumput keriting’, pengendalian yang dilakukan adalah secara mekanik, yaitu dengan mencabut atau menggunakan sabit/parang. Pengendalian gulma biasanya dilakukan saat umur padi 50 hari. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam 1 Ha adalah 200 orang @Rp. 7000,00/hari.
Selain gulma, yang perlu diperhatikan adalah hama dan penyakitnya, Hama yang dominant menyerang adalah walang sangit dan penyakit putih pada daun padi. Upaya pengendalian petani adalah dengan menggunakan pestisida untuk wereng dan garam kasar untuk penyakit. Biaya tenaga kerja adalah Rp. 15.000,00/hari.
Yang paling ditunggu-tunggu oleh petani adalah panen. Pengeringan sawah dilakukan 90 hari sebelum masa panen. Kriteria padi sudah waktu panen adalah berwarna kuning (menurut sumber kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak). Untuk memanen biasanya petani menggunakan sabit. Perontokan padi dilakukan setelah didiamkan selama 24 jam untuk mengurangi kadar air dan padi lebih kering sehingga mudah dibersihkan, peralatan yang digunakan petani biasa menyebutnya ‘gebrek’ yang masih sangat sederhana. Alat untuk membersihkan adalah dengan cara diangin-anginkan saja tanpa adanya upaya pengeringan langsung dijual. Hasil gabah per-hektar adalah sekitar 5-6 ton/ha dengan harga R0. 280.000,00/kw yang pada panen raya bisa turun hingga Rp. 200.000,00 karena jumlah produksi yang melimpah.








BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Menurut Praktikum Acara 1 Produksi Tanaman, tentang “wawancara dengan petani Budidaya tanaman padi“ yang dilakukan di Dusun Krajan Desa KamaL, Jember, kesimpulan yang didapat, antara lain :
Petani di desa ini umumnya menggunakan padi varietas cibogo, ciheran, cintanul dan bojonegoro, sistem budidaya yang dilakukan oleh petani di desa ini umumnya secara tradisional, dan menurut pengakuan bapak abdul hakim, bahwa petani di desa krajan ini rata-rata memiliki sawah yang ukurannya relatif kecil-kecil.
Petani di desa krajan kurang terbuka dengan teknologi sehingga hasil produksi petani relatif rendah khususnya dalam hal budidaya tanaman padi.

5.2 Saran
Petani di desa krajan hendaknya menerima teknologi inovasi yang di tawarkan, agar dalam memenejement budidaya dengan baik sehingga hasil produksi padinya tinggi, untuk mencapai tersebut maka petani harus melakukan pendekatan dengan para kaum ilmiah sehingga dapat menggabungkan antara teori dan praktik sehingga dapat memperbaiki pengetahuan petani dalam teknologi budidaya tanaman padi yang baik sehingga memberikan hasil yang optimum.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimos, 2007 .Petunjuk Tehnis Penyebaran peningkatan Penggunaan Benih Padi Hibrida , Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur.

Anonimos,2007 .Petunjuk tehnis Tehnologi Budidaya Padi Hibrida di Jawa Timur.

Anonimos,1985, Hama Tungro. Departemen Pertanian. Proyek Pengembangan penyuluhan Pertanian/NAEP.Jakarta

Anonimus, 1983-1984. Beberapa hama penting pada padi. Departemen Pertanian. Proyek Informasi Pertanian Wonocolo,Jawa Timur

Anonimus,, 1982, Penanganan Pasca panen Padi.. Departemen Pertanian. Proyek Informasi Pertanian ,Balai Informasi Pertanian Wonocolo,Surabaya

B.S Vegara,1990. Bercocok tanaman padi. Proyek Prasarana Fisik. Bappenas
AAK, 1990. Budidaya Tanaman Padi. Kanisius Yogyakarta.

Ir. Edy Purnomo,1996. Teknologi penanaman padi sistim jajar legowo.Lembar Informasi Pertanian Balai penelitian Tehnologi Pertanian Karangploso.

Suwono,dkk, 2001 Acuan Pemupukan Spesifik Lokasi untuk Padi sawah di Jawa Timur. Badan penelitian dan pengembangan Pertanian BPTP Jawa Timur.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar