Rabu, 12 Mei 2010

Padi banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia. Dalam budi-dayanya sering dijumpai ber-bagai kendala, seperti musim, serangan hama dan penyakit, kebijakan peme-rintah sampai harga jual yang rendah. Adanya serangan hama dan penyakit seperti wereng coklat maupun tungro masih menjadi kendala utama bagi petani. Petani seakan sudah kehilangan akal untuk mengatasi dua serangan ini. Kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit dan mengancam produksi beras nasi-onal. Akibat serangan ini, produksi bisa turun dari serangan rendah (15%) sampai serangan berat (79%). Penu-runan produksi akibat serangan ini dapat dikurangi bila kita mengenali terlebih dahulu karateristik hama dan penyakitnya sehingga kita dapat mencari cara yang efektif dalam me-ngendalikannya. Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengendalikan kedua musuh ini
Pada padi yang terserang wereng coklat terlihat helaian daun padi yang paling tua berangsur-angsur berwarna kuning. Bila hal itu dibiarkan akan ditandai dengan adanya massa berupa jamur jelaga. Serangan wereng coklat dengan tingkat populasi yang tinggi akan menyebabkan warna daun dan batang tanaman menjadi kuning kemudian berubah menjadi coklat dan akhirnya seluruh tanaman menjadi kering seperti terbakar. Berkembangnya serangan wereng coklat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya (1) wereng coklat adalah serangga yang mampu berkembang biak dengan cepat dimana dalam masa reproduksinya, satu buah induk betina wereng coklat mampu menghasilkan 100-600 butir telur. Dengan daya sebar yang cepat dan ganas serta kemampuan menemukan sumber makanan, membuat serangan wereng coklat ini semakin meluas. (2) penanaman varietas padi yang peka/tidak tahan terhadap wereng coklat, kemudian (3) adanya pola tanam yang tidak teratur dan (4) penggunaan pestisida yang kurang tepat sehingga tidak efektif dalam membasmi wereng coklat tersebut.
Pengendalian hama wereng coklat dan penyakit tungro ini akan lebih efektif bila kita mengetahui bagaimana gejala, sistem penularan dan siklus hidup serangga penyebar penyakit itu. Penularan penyakit tung-ro pada padi bersumber dari singgang (sisa tanaman padi setelah dipanen) dan rumput-rumput yang berada di sekitar tanaman padi. Virus tungro ini dibawa oleh wereng hijau dengan menghisap tanaman sakit dan me-nyebarkannya melalui jaringan tanaman padi. Penularan penyakit oleh wereng hijau ini berlangsung secara non persisten, yaitu segera terjadi dalam waktu 2 jam setelah menghisap tanaman, dan menimbulkan tanda serangan setelah 6 – 9 hari kemudian. Selain wereng hijau dewasa, nimfa (larva) dari serangga ini pun dapat menularkan virus tungro. Virus ini tidak dapat ditularkan melalui : telur wereng hijau, biji padi, atau gesekan antara tanaman sehat dengan tanaman sakit. Berdasarkan hal itu, maka bila kita ingin mengendalikan penyakit akibat virus ini, maka yang perlu kita kendalikan adalah faktor penyebarnya yaitu wereng hijau, tanaman yang sakit dan singgang-singgang sebagai sumber penyakit.

Pembahasan
Hama, dapat dikatakan sebagai mahluk hidup (umumnya hewan seperti serangga, tikus, nematoda) yang menyebabkan kerusakan dan kerugian pada tanaman yang dibudidayakan. Sebagai praktisi pertanian, hama tentu saja bukan barang baru bahkan mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari dan dijadikan salah satu prioritasnya. Sehingga wajar di setiap lembaga pertanian baik itu tanaman pangan, hortikultura, rempah dan obat, maupun perkebunan dan kehutanan ada divisi khusus yang menangani masalah hama dan penyakit. Seolah-olah kehadiran hama ini tidak bisa dipisahkan dengan pertanian. Kenyataannya memang demikian, karena kehadiran hama ini tidak bisa dipandang remeh atau sebelah mata. Sudah cukup banyak kasus yang menunjukkan betapa hebatnya hama ini menghabiskan dan menghancurkan areal pertanian. Masih teringat dalam benak kita pada era tahun 80-an dimana hama wereng coklat melalap habis tanaman padi hampir di seluruh Indonesia. Kemudian akhir 90-an, jutaan hama belalang menghabiskan ribuan hektar areal padi sawah di Propinsi Lampung tanpa ampun, tidak hanya padi yang diserang bahkan semua tanaman yang berdaun sejajar seperti jagung, kelapa, dan lain-lain turut menjadi korban keganasan hama ini. Dan masih banyak lagi kasus yang menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh hama.

Kenyataan tersebut membuat praktisi pertanian terus berupaya melakukan serangkaian penelitian dalam rangka menanggulangi serangan hama yang makin lama semakin mengganas. Namun seperti halnya antara pencuri dengan teknologi alat pengaman, dimana semakin canggih teknologi alat pengaman, semakin pintar pula seorang pencuri dalam mengatasi alat tersebut. Perumpamaan tersebut boleh jadi sama dengan team riset hama dan penyakit dengan hama itu sendiri dimana semakin maju teknologi pemberantasan hama, semakin banyak pula hama yang menyerang, seolah tidak ada habisnya.
Padi banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia. Dalam budi-dayanya sering dijumpai ber-bagai kendala, seperti musim, serangan hama dan penyakit, kebijakan peme-rintah sampai harga jual yang rendah. Adanya serangan hama dan penyakit seperti wereng coklat maupun tungro masih menjadi kendala utama bagi petani. Petani seakan sudah kehilangan akal untuk mengatasi dua serangan ini. Kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit dan mengancam produksi beras nasi-onal. Akibat serangan ini, produksi bisa turun dari serangan rendah (15%) sampai serangan berat (79%). Penu-runan produksi akibat serangan ini dapat dikurangi bila kita mengenali terlebih dahulu karateristik hama dan penyakitnya sehingga kita dapat mencari cara yang efektif dalam me-ngendalikannya. Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengendalikan kedua musuh ini
Pada padi yang terserang wereng coklat terlihat helaian daun padi yang paling tua berangsur-angsur berwarna kuning. Bila hal itu dibiarkan akan ditandai dengan adanya massa berupa jamur jelaga. Serangan wereng coklat dengan tingkat populasi yang tinggi akan menyebabkan warna daun dan batang tanaman menjadi kuning kemudian berubah menjadi coklat dan akhirnya seluruh tanaman menjadi kering seperti terbakar.

Berbeda dengan serangan hama wereng coklat, serangan penyakit tungro ini disebabkan oleh virus. Penyebaran serangan penyakit ini sangat cepat karena dibantu oleh vektor (serangga penular) yaitu we-reng hijau (Nephotettix virescens dan N. nigropictus). Adapun gejala / tanda kerusakan yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah : Gejala serangan awal di lahan biasanya khas dan menyebar secara acak. Daun padi yang terserang virus tungro mula-mula berwarna kuning oranye dimulai dari ujung-ujung, kemudian lama-kelamaan berkembang ke bagian bawah dan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam. Bila keadaan ini dibiarkan jumlah anakan padi akan mengalami pengurangan, tanaman menjadi kerdil, malai yang terbentuk lebih pendek dari malai normal selain itu banyak malai yang tidak berisi (hampa) sehingga tidak bisa menghasilkan. Seperti halnya wereng coklat, penyebaran penyakit ini juga sangat cepat. Cepatnya perkem-bangan penyakit tungro disebabkan antara lain oleh : (1) cepatnya perkembangan serangga penular (wereng hijau),(2) masih dilakukannya penanaman bibit padi yang tidak diketahui asal usul dan kesehatannya, terutama dari daerah endemis tungro, (3) adanya penanaman varietas tidak tahan tungro yang didu-kung pola tanam tidak teratur, dan (4) para petani masih enggan melakukan pemusnahan (eradikasi) pada tanaman yang terkena serangan tungro akibatnya tanam padi sehat yang lain ikut terkena penyakit ini.
Dalam siklus hidupnya wereng coklat terbagi kedalam 3 fase yaitu telur, nimfa dan serangga dewasa. Wereng coklat betina meletakkan telur-telurnya di dalam pelepah dan tulang daun. Setelah 7-9 hari kemudian telur-telur tersebut menetas dan menjadi nimfa. Pada fase nimfa inilah serangga wereng coklat berbahaya karena pada fase ini nimfa-nimfa bersaing untuk men-dapatkan sumber makanan agar bisa tumbuh menjadi serangga dewasa. Dalam menunjang perkembangannya menjadi dewasa itulah nimfa ini kemudian merusak tanaman dengan cara memakan dan menghisap cairan yang ada dalam tanaman padi. Nimfa ini sendiri terbagi ke dalam 5 instar sesuai warnanya. Instar pertama ber-warna putih dan selanjutnya berubah menjadi warna coklat. Pada umur 13-15 hari, nimfa sudah berkembang menjadi serangga dewasa. Wereng cok-lat mempunyai keistimewaan yaitu mampu membentuk biotipe baru. Pembentukan biotipe ini terjadi bila terjadi pergantian varietas padi yang tahan wereng. Penggunaan perstisida yang kurang benar akan menimbulkan biotipe baru yang menyebabkan wereng tersebut semakin kebal ter-hadap insektisida yang diberikan.
Pengendalian wereng coklat dapat dilakukan dengan mencegah penyebaran dan perkembangbiakan hama tersebut. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah :
Fly Catcher adalah alat pengendalian yang biasa digunakan dalam industri pest control untuk mengendalikan hama serangga terbang seperti lalat, nyamuk, dan serangga terbang lainnya. Alat pengendalian ini berupa perangkap serangga dimana prinsip pengendaliannya adalah menarik serangga (atractant) untuk mendatangi perangkap sehingga kemudia terperangkap dan mati. atractant yang digunakan dapat berupa lampu/sinar yang menarik serangga atau feromon atau warna.
Pasang Alat Fly Catcher dengan ketinggian sekitar 6 kaki dari lantai Kebanyakan serangga terbang beraktivitas di dekat permukaan Pasang Fly Catcher pada lokasi yang tidak terlihat oleh serangga dari luar ruangan Untuk mencegah masuknya serangga dari luar ke area dalam dikarenakan tertarik oleh cahaya ILT yang dipasang Pasang Fly Catcher setidaknya 15 kaki dari pintu atau akses masuk lainnya Menghindari kemungkinan masuknya serangga luar ke area dalam dengan cepat Pasang Fly Catcher pada area yang gelap/redup yang jauh dari pancaran cahaya/sinar matahari Meningkatkan visibilitas dan daya tarik terhadap serangga Pasang setidaknya 5 kaki dari tempat proses makanan Meminimalkan kemungkinan resiko kontaminasi pada makanan atau produk makanan Gantilah tabung lampu setiap bulan sebelum musim aktivitas puncak serangga Tabung lampu yang sudah terlalu lama biasanya akan berkurang daya tarik cahayanya terhadap serangga Lakukan pengecekan dan bersihkan peralatan secara rutin Bangkai serangga akan berperan sebagai makanan bagi serangga hidup yang lain.
Pertama adalah mengatur pola tanam pada areal padi dengan melakukan pergiliran tanamn bukan padi untuk memutus siklus hidup wereng hijau dan meniadakan sumber penyakitnya.
Kedua adalah memusnahkan singgang (sisa tanaman) yang terserang virus kerdil rumput dan kerdil hampa dengan cara mengolah tanah sesegera mungkin setelah tanaman padi dipanen. Dengan kita membiarkan lahan tersebut, maka kemungkinann timbulnya serangan virus akan lebih besar saat kita memulai penanaman kembali.
Ketiga adalah menanam padi varietas unggul tahan hama. Penanaman varietas tahan hama terbukti mampu dan efektif mengurangi serangan wereng coklat. Penggunaan bibit padi yang merupakan keturunan dari benih asli/bersertifikat akan membuat tanaman menjadi lebih peka/rentan terhadap serangan hama, sehingga disarankan untuk selalu menggunakan benih F-1-nya. Saat ini ada sekitar 17 varietas yang tergolong tahan wereng diantaranya : Cisadane, IR-50, Krueng Aceh, Sadang, Cisokan, Cisang-garung, IR-64, Dodokan, IR-66, Way Seputih, Walanae, Membramo, Cilo-asri, Digul, Maros, Cirata dan Way Opo Buru. Namun , perlu diketahui pula bahwa diantara verietas tersebut, ada beberapa varietas diantaranya yang rentan terhadap biotipe wereng tertentu diantaranya : Cisadane, Krueng Aceh, Sadang dan Cisokan, yang hampir semuanya meskipun tahan wereng biotipe B2, namun agak rentan terhadap B1 dan rentan terhadap biotipe B3.
Keempat yaitu melakukan pemusnahan selektif terhadap tanaman padi yang terserang ringan. Artinya memilih tanaman padi yang terserang dengan cara mengambilnya untuk kemudian dibuang/dibakar di tempat lain. Bila terjadi serangan berat, maka perlu dilakukan pemusnahan (eradikasi) total.
Kelima yaitu melakukan penyemprotan dengan insktisida anjuran seperti Winder 25WP bila populasiwereng coklat telah mencapai batas-batas : populasi wereng mencapai lebih dari 10 ekor per rumpun saat padi berumur kurang dari 40 HST dan populasi wereng mencapai lebih dari 40 ekor per rumpun saat tanaman padi berumur lebih dari 40 HST.
Keenam yaitu ada saat melakukan penyemprotan sebaiknya dimulai dengan membuka (“membiak”) antara barisan tanaman, kemudian menyemprot tanaman dengan mengarahkan semprotan ke bagian batang bawah. Hal ini dilakukan karena biasanya wereng coklat berada di bagian batang bawah.
Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 08.24 | No comments

budidaya tanaman sayur bayam

Indonesia merupakan Negara agraris yang terletak didaerah tropis sehingga memungkinkan banyaknya plasma nutfah hidup di Negara ini salah satu tanaman yang dapat dikembangkan yaitu sayur-sayuran. Menurut hukum Malthus, Pertumbuhan manusia mengikuti deret ukur sedangkan jumlah produksi pangan mengikuti deret hitung. Ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran. Dengan demikian kebutuhan tanaman sayuran dapat terpenuhi. Salah satu tanaman sayuran yang banyak digemari oleh konsumen yaitu bayam.
Bayam sebagai sayur hanya umum dikenal di Asia Timur dan Asia Tenggara, sehingga disebut dalam bahasa Inggris sebagai Chinese amaranth. Di tingkat konsumen, dikenal dua macam bayam sayur: bayam petik dan bayam cabut. Bayam petik berdaun lebar dan tumbuh tegak besar (hingga dua meter) dan daun mudanya dimakan terutama sebagai lalapan (misalnya pada pecel, gado-gado), urap, serta digoreng setelah dibalur tepung. Daun bayam cabut berukuran lebih kecil dan ditanam untuk waktu singkat (paling lama 25 hari), lebih cocok untuk dibuat sup encer seperti sayur bayam dan sayur bobor. Bayam petik biasanya berasal dari jenis A. hybridus (bayam kakap) dan bayam cabut terutama diambil dari A. tricolor. Jenis-jenis lainnya yang juga dimanfaatkan adalah A. spinosus (bayam duri) dan A. blitum (bayam kotok). Baik bayam cabut dan bayam petik memiliki manfaat diantaranya merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan digemari oleh semua lapisan masyarakat. Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur mayur, bahkan disajikan sebagai hidangan mewah (elit). Di beberapa negara berkembang bayam dipromosikan sebagai sumber protein nabati, karena berfungsi ganda bagi pemenuhan kebutuhan gizi maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Manfaat lainnya adalah sebagai bahan obat tradisional, dan juga untuk kecantikan.
Pola pemasaran bayam yang berjalan adalah rantai pemasaran tradisional. Petani produsen menjual hasilnya ke leverensir/tengkulak kebun yang ditugaskan oleh leverensir. Leverensir lalu mengirim hasil langsung ke bandar untuk diteruskan ke pasar-pasar kecil sebagai pengecer yang akhirnya sampai ke konsumen. Dapat pula petani produsen langsung menjual hasilnya ke pengecer setempat.

2.5 Tahapan Pelaksanaan
Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan praktikum ini meliputi beberapa kegiatan berikut :
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Benih/biji yang baik untuk bertanam bayam adalah dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) berasal dari induk yang sehat,
b) bebas dari hama/penyakit,
c) daya kecambah 80 prosen, dan
d) memiliki kemurnian benih yang tinggi.
Disamping persyaratan seperti yang disebutkan diatas, benih/bibit yang digunakan kalau bisa merupakan benih unggul agar nantinya tahan terhadap hama dan penyakit.
3.1.2. Penyiapan Benih
Benih Bayam sayur yang ditanam petani kebanyakan swadaya dari tanaman terdahulu yang sengaja dibiarkan tumbuh terus untuk produksi biji. Keperluan benih untuk lahan 1 hektar berkisar antara 5-10 kg, atau 0,5-1,0 gram per m2 luas lahan. Biji dipanen pada waktu musim kemarau dan hanya dipilih tandan yang sudah tua (masak). Tandan harus dijemur beberapa hari, kemudian biji dirontokkan dari tandan dan dipisahkan dari sisa-sisa tanaman. Untuk memproduksi bibit bagi satu hektar kebun yang berisi 25000-40000 tanaman, kemungkinan dibutuhkan sekitar 1-2 kg benih.

3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Lahan untuk pembibitan dipilih yang lebih tinggi dari sekitarnya dan bebas dari hama dan penyakit tanaman maupun gulma. Pembibitan diberi atap plastik atau atap jerami padi. Benih bayam disebar merata atau berbaris-baris pada tanah persemaian dan ditutup dengan selapis tanah tipis.

3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Dalam pemeliharaan benih/bibit perlu dilakukan penyiraman dengan teratur dan hati-hati. Tanah yang digunakan juga perlu dipupuk agar kesuburannya tetap terjaga. Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk kandang. Setelah bibit tumbuh dan ada benih yang terserang hama/penyakit maka perlu disemprot dengan pestisida dengan dosis rendah.

3.1.5. Pemindahan Bibit
Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7-14 hari, bibit dipindah-tanam ke dalam pot-pot yang terbuat daun pisang atau kantong plastik es mambo yang sebelumnya telah diisi dengan medium tumbuh campuran tanah dan pupuk organik yang halus (1:1). Bibit dalam pot disiram teratur dan setelah berumur sekitar 7-14 hari setelah dipotkan, bibit tersebut telah siap untuk dipindah-tanam ke lapangan.

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Sebelum pengolahan lahan dilakukan perlu diketahui terlebih dahulu pH tanah yang sesuai yaitu antara 6-7 sehingga perlu dilakukan pengukuran dengan menggunakan pH-meter. Selanjutnya menganalisis tanah yang cocok untuk tanaman bayam, apakah perlu dilakukan pemupukan atau tidak. Kapan tanaman akan ditanam dan sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau. Berapa luas lahan yang akan ditanami dan akan melakukan sistem polikultur atau monokultur. Dan berapa banyak kebutuhan benih untuk dapat memenuhi produk bayam yang diinginkan.

3.2.2. Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami dicangkul/dibajak sedalam 30-40 cm, bongkah tanah dipecah gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan. Lahan kemudian dibiarkan selama beberapa waktu agar tanah matang benar.

3.2.3. Pembentukan Bedengan
Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar 120 cm atau 160 cm, tergantung jumlah populasi tanaman yang akan ditanam nanti. Dibuat parit antar bedengan selebar 20-30 cm, kedalaman 30 cm untuk drainase. Pada bedengan dibuat lubang-lubang tanam, jarak antar barisan 60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.

3.2.4. Pemupukan
Pemupukan awal menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Waktu pemupukan dilakukan satu minggu atau dua minggu sebelum tanam. Cara pemupukan adalah dengan disebarkan merata diatas bedengan kemudian diaduk dengan tanah lapisan atas. Untuk pemupukan yang diberikan per lubanng tanam, cara pemberiannya dilakukan dengan memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam.
Dosis pemberian pupuk dasar disesuaikan dengan jenis tanaman dan keadaan lahan.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 20 cm x 20 cm.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di pukul-pukul sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 20 cm dan jarak antar lubang (antar barisan) 20 cm.

3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman di lapangan dilakukan dengan penyemaian. Waktu penanaman paling baik adalah pada awal musim hujan. Dengan penyemaian maka tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik karena benih diperoleh dengan cara seleksi untuk ditanam.

3.3.4. Pengairan dan Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, sebaiknya penyiraman dilakukan rutin dan intensif 1-2 kali sehari, terutama di musim kemarau. Waktu yang paling baik untuk menyiram tanaman bayam adalah pagi atau sore hari, dengan menggunakan alat bantu gembor (emrat) agar air siramannya merata.
3.4. Panen
3.4.1. Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25-35 hari setelah tanam. Tinggi tanaman antara 15-20 cm dan belum berbunga. Waktu panen yang paling baik adalah pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi.

3.4.2. Cara Panen
Cara panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan memilih tanaman yang sudah optimal. Tanaman yang masih kecil diberi kesempatan untuk tumbuh membesar, sehingga panen bayam identik dengan penjarangan.

3.4.3. Periode Panen
Panen pertama dilakukan mulai umur 25-30 hari setelah tanam, kemudian panen berikutnya adalah 3-5 hari sekali. Tanaman yang sudah berumur 35 hari harus dipanen seluruhnya, karena bila melampaui umur tersebut kualitasnya menurun atau rendah; daun-daunnya menjadi kasar dan tanaman telah berbunga.

3.4.4. Prakiraan Produksi
Produksi bayam per hektar dapat mencapai sekitar 22.630 kg.

3.5. Pascapanen
3.5.1. Pengumpulan
Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat membuat daun layu.

3.5.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan memisahkan bayam yang busuk dan rusak dengan bayam yang baik dan segar. Disamping itu juga penggolongan terhadap bayam yang daunnya besar dan yang daunnya kecil. Setelah itu diikat besar-besar maupun langsung degan ukuran ibu jari.

3.5.3. Penyimpanan
Penyimpanan untuk menjaga kesegaran bayam dapat diperpanjang dari 12 jam tempat terbuka (suhu kamar) menjadi 12-14 hari dengan perlakuan suhu dingin mendekati 0 derajat C, misalnya dengan remukan es.
3.5.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan (pewadahan) dalam telombong atau dedaunan yang digulungkan menyelimuti seluruh bagian bayam, sehingga terhindar dari pengaruh langsung sinar matahari. Pengangkutan ke pasar dengan cara dipikul maupun angkutan lainnya, seperti mobil atau gerobak.

3.5.5. Pencucian
Pencucian hasil panen pada air yang mengalir dan bersih, atau air yang disemprotkan melalui selang maupun pancuran.

3.5.6. Penanganan Lain
Bayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Sewaktu memasak bayam ialah tidak boleh terlalu lama. Bayam cukup hanya direbus selama ± 5 menit. Memasak bayam terlalu lama akan menyebabkan daun-daunnya menjadi hancur (lonyoh), rasanya tidak enak, dan kandungan vitamin C-nya menguap (menghilang).
Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 08.21 | No comments



Pada prinsipnya pengendalian hama terpadu ini berarti memadukan beberapa taktik pengendalian yang terpilih dalam suatu strategi pengendalian hama yang saling mendukung antara teknis yang satu dengan yang lain.
Seperti yang kita ketahu bahwa pestisida kimiawi atau sintetik merupakan bahan atau zat pengendali hama yang di dalamnya terdapat zat atau bahan aktif yang mampu merusak jaringan tubuh hama, mengganggu perkembangan hama tertentu bahkan mampu membunuh hama, secara sistemik maupun kontan.
Jika kita melihat hasil aplikasi di lapangan memang ampuh dalam mengendalika hama dan hasilnya kita dapat melihat nyata. Dengan beberapa alas an diatas di tambah lagi efektif, mudah terjangkau, efisien dan mudah di aplikasikan oleh siapa saja tanpa ada kompetensi khusus maka, kita bisa melihat petani kita sekarang sudah menggantungkan harapan pada pengendalian hama dengan pestisida, sehingga ketika ada pihak yang menawarkan tehnologi pengendalian lain yang lebih rama terhadap lingkunga, para petani sudah tidak mau percaya dan ironisnya lagi menolak cara- cara lain yang ditawarkan tersebut.
Tetapi petani kita tidak tahu dampak negatifnya. Dengan adanya pengendaliah hama secara kimiawi/sintetik dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya bagi ekosistem, rantai makanan, musuh alami/predator dan residu pada produk pertanian dan penelitian menunjukan bahwa residu pestisida kimiawi menimbulkan berbagai penyakit bagi manusia seperti kangker, tumor dan macam-macam gangguan pada manusia lainnya serta bila tidak hati-hati dalam penggunaanya maka pestisida kimiawi meracuni manusia secara kontak dan sistemik melalui jaringan tubuh manusia.
Dampak pestisida selain merusak lingkungan dan membunuh predator, juga merugikan secara ekonomi sebab, harga produk pestisida sintetik di pasaran relative mahal oleh karena itu jika mengendalikan hama denngan pestisida kimiawi maka biaya produksinya akan tinggi oleh karena itu pendapatan petani akan rendah.
melihat dampak negative yang begitu besar di atas maka, perlu diperhatikan dalam mengambil kesimpulan untuk memilih cara pengendalian hama.
Keputusan pengendalian hama terpadu secara kimiawi ini jadikan sebagai alternative yang paling terakhir, setela semua cara pengendalian seperti kultur teknis, pola tanam, rotasi tanaman, pemilihan varietas tanaman tahan, pengendalian dengan agen hayati, setelah beberapa teknis pengendalian di atas memang tidak mampu mengatasi populasi hama, baru kemudian dapat memutuskan untuk menggunakan pestisida sintetik. Selama cara-cara non tehnik pengendalian kimiawi mampu menekan dan mengendalikan hama maka tidak perlu menggunakan pestisida.
pestisida kimiawi boleh digunakan sebagai alternative terakhir, tetapi perlu diperhatikan dalam pengaplikasianya, yang mana hal-hal yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut : dosis pestisida, jenis pestisida dan sasaran hama, waktu pestisida. Dan pestisida diterapkan bila populasi hama di lapangan memang bisa merugikan petani secara ekonomi, oleh karena itu sebelum mengambil keputusan untuk mengaplikasikan pestisida kimiawi maka sebaiknya melakukan pengamatan dan pengambilan sample di lapangan dengan beberapa metode untuk menetukan apakah hama berpotensi merugikan ambang ekonomi atau tidak.


SUMBER :
Natawigena, H. Pengendalian hama terpadu (Integreted Pest Control). 1990.
cv Armico : Bandung.

Hasil diskusi dan wawancara dengan petani di daerah mangli, bapak. M.saleh
Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 08.09 | No comments

tehnik budidaya tanaman padi,



1.1 Latar Belakang
Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berusaha, memenuhi kebutuhan primer yaitu makanan. Dalam sejarah hidup manusia dari tahun ketahun mengalami perubahan yang diikuti pula oleh perubahan kebutuhan bahan makanan pokok. Hal ini dibuktikan dibeberapa daerah yang semula makanan pokoknya ketela, sagu, jagung akhimya beralih makan nasi. Nasi merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mudah diolah, mudah disajikan, enak dan nilai energi yang terkandung didalamnya cukup tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap kesehatan.
Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat. Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi.
Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 °C. Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 -1500 m dpl.
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7.
Padi dibudidayakan dengan tujuan mendapatkan hasil yang setinggi-tinginya dengan kualitas sebaik mungkin, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan maka, tanaman yang akan ditanam harus sehat dan subur. Tanaman yang sehat ialah tanaman yang tidak terserang oleh hama dan penyakit, tidak mengalami defisiensi hara, baik unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Sedangkan tanaman subur ialah tanaman yang pertumbuhan clan perkembangannya tidak terhambat, entah oleh kondisi biji atau kondisi lingkungan.

1.2 Perumusan Masalah
Disetiap derah petani memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda dalam tehnik budidaya tanaman padi, hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan petani, penguasaan teknologi dan faktor – faktor iklim sangat erat kaitanya dalam kebiasaan petani dalam budidaya tanaman padi, praktikum seperti ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa agar bisa menggali ilmu langsung dari kebiasaan petani di lapangan.
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
1. Memberikan wahana aplikasi keilmuan bagi mahasiswa
2. Memberikan pengalaman dan melatih keterampilan mahasiswa dalam menganalisa intensifikasi teknologi budidaya padi.
1.3.2 Manfaat
Dengan mempelajari langsung melalui wawancara dengan petani memberikan pengalaman pada mahsiswa yang baik dan terjadi interaksi antara petani dan mahasiswa yang baik.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Beras merupakan makanan pokok seluruh rakyat Indonesia , bahkan banyak daerah yang pada waktu lalu penduduknya mempunyai makanan pokok selain beras misalnya Madura, Maluku, Papua dan lain-lain saat ini sudah pindah ke beras untuk dijadikan makanan pokoknya.
Bahkan saking minded-nya, banyak masyarakat kita yang berpendapat belum makan bila belum makan nasi. Salah satu sulitnya peningkatan produksi pangan khususnya padi adalah terjadinya penyempitan lahan pertanian subur terutama di pulau Jawa.
Sedangkan penambahan lahan pertanian lebih banyak dapat dilakukan pada lahan marginal yang kurang subur. Di sisi lain kebutuhan beras terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk. Dengan demikian, peningkatan produksi beras hanya cukup untuk mencukupi permintaan akibat pertambahan penduduk (mempertahankan konsumsi beras per kapita) tetapi tidak cukup memadai untuk menutup peningkatan konsumsi beras per kapita akibat peningkatan pendapatan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, alternatif yang paling memungkinkan adalah penggunaan varietas hibrida yang memanfaatkan gejala heterosis. Hasil padi hibrida ini dapat melebihi hasil varietas padi konvensional sebesar 30 % (Yuan,1994).
Heterosis tertinggi yang dapat dicapai pada penelitian di Indonesia sebesar 40,5% dengan menggunakan CIAMIS introduksi dan pemulih nasional (Satoto et al.,1994). Sedang dengan menggunakan pemulih IRRI, heterosis berkisar 1,19 – 49,38 % ( Suprihatno dan Satoto, 1996). Disamping itu salah satu upaya lain untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan tanam padi sistim Legowo. Dengan sistim Legowo, tanaman padi dapat berproduksi lebih tinggi karena adanya pengaruh dari tanaman pinggiran.
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur
19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7.
Dengan jarak tanam 25 x 25 cm per 1000 m2 sawah membutuhkan 1,5-3 kg. Jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50-60 gr/m2. Perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100, atau 1000 m2 sawah : 3,5 m2 pembibitan.
Benih direndam POC NASA dan air, dosis 2 cc/lt air selama 6-12 jam. tiriskan dan masukkan karung goni, benih padi yang mengambang dibuang. Selanjutnya diperam menggunakan daun pisang atau dipendam di dalam tanah selama 1 - 2 malam hingga benih berkecambah serentak.
Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 - 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, dilakukan penyemprotan POC NASA dengan dosis 2 tutup/tangki. Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.
Pemupukan seperti pada tabel berikut, dosis pupuk sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis. Khusus penggunaan Hormonik bisa dicampurkan dengan POC NASA kemudian disemprotkan ( 3-4 tutup NASA + 1 tutup HORMONIK /tangki ). Hasil akan bervariasi tergantung jenis varietas, kondisi dan jenis tanah, serangan hama dan penyakit serta gulma.
Benih dan persemaian Penggunaan benih benih padi hibrida dapat ditanam hanya satu kali tanam. Setiap kali penanaman harus menggunakan benih baru dan bersertifikat. Penggunaan padi benih hibrida dianjurkan 15-20 kg/ha untuk sistim tanam tegel, jika menggunakan sistem tanam jajar legowo, kebutuhan benih lebih banyak 30% atau 4,5-6 kig/ha Ada 31 varietas padi hibrida yang dianjurkan dan sudah dilepas oleh Deptan pada tahun 2006.
Tempat persemaian yang dipilih adalah yang mudah pengairannya dan pembuangan airnya, bebas hama dan jauh dari jalan raya. Bahan organik diberikan sebanyak 1 kg/m2 sebelum penyiapan lahan persemaian untuk menambah kesuburan dan memudahkan pertumbuhan benih. Luas persemaian adalah 1/20 bagian (5%) dari luas sawah, sehingga untuk 1 ha pertanaman diperlukan untuk luas persemaian adalah 500 m2. Tanah diolah, dicangkul dan dibajak, dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 7 hari kemudian dibuat bedengan dengan ukuran 10 m x 1,20m, dengan ketinggian 5-10 cm, dibuat parit antar bedengan dan keliling bedengan dengan ukuran lebar parit 30 cm dan kedalaman 30 cm. Dari luas 500 m2 dibuat 30 bedeng.
Benih direndam selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam hingga berkecambah 1mm, selanjutnya benih disebar merata dengan ekpadatan sebar 50-75 gr/ m2 Sehari sebelum sebar, persemaian dipupuk SP 36 sebanyak 5 gr/ m2 dan KCL 5 gr/ m2 .Setelah persemaian umur 10 hari, tambahkan pupuk Urea 10 gr/ m2 luas persemaian. Setelah sebar benih lebih baik ditabur secara merata dengan abu damen/sekam sampai benih tidak kelihatan, persemaian tidak usah diairi sampai benih tumbuh merata diatas abu damen/sekam, air dijaga tetap diparit/selokan untuk menjaga kelembaban. Keuntungan sistim ini dimaksudkan tumbuhnya benih dipersemaian lebih merata dan memudahkan pencabutan bibit sehingga mengurangi tenaga kerja.
Pada persemaian tanpa menggunakan abu damen/sekam sehari setelah sebar benih hingga hari ketujuh, masukkan air pada pagi hari hingga ketinggian 5 cm dan keluarkan air pada sore hari. Kemudian pada hari ke delapan dan seterusnya, ketinggian air dijaga 2-5 cm.
Setelah bibit umur 15-18 hari setelah sebar atau setelah berhelai 5-6 helai, bibit dipindahka tanamkan dilahan penanaman. Setelah periodik dilakukan pengamatan terhadap kemungkinan adanya organisme pengganggu tanaman (OPT).
Penyiapan lahan Tiga minggu sebelum tanam, lahan perlu digenangi air untuk melunakkan tanah. Tanah diolah secara sempurna yaitu dibajak 1 kali dengan kedalaman 20 cm dan masukkan semua gulma dan sisa-sisa jerami kedalam tanah agar dapat terdekomposisi. Menggenagi lahan selama 7 hari dalam keadaan macak-macak untuk mencegah lepasnya nitrogen dari tanah dan mempercepat proses pembusukan jerami dan gulma. Dibajak 2 (dua) dan digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah,. agar siap ditanami bibit padi. serta menjaga genangan air dilahan Memasukkan pupuk organik kedalam tanah dengan bajak atau garu. Setelah garu, diberi pupuk NPK sebagai pupuk dasar Untuk menekan pertumbuhan gulma, disemprot dengan herbisida pra tumbuh dan dibiarkan selama 7 hari/ sesuai dengan anjuran pemakaian herbisida tersebut.
Penanaman Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-18 hari setelah sebar, atau bibit telah berdaun 5-6 helai, dengan sistem tanam pindah (transplanting ) Menggunakan sistim tanam jajar legowo ( 20 cm x 12,5 cm ) x 40 cm (untuk lahan kurang subur) atau (20 cm x 15 cm) x 40 cm (untuk lahan subur). Populasi bibit dipersemaian lebih jarang daripada yang biasa dipraktekkan petani, sehingga pada umur 15-18 hari bibit padi telah mempunyai anakan. Tanam bibit pada kedalaman 2-3 cm. Pada waktu penanaman, anakan tidak boleh dipisah-pisahkan. Cara penanaman padi hibrida adalah satu tanaman per rumpun, bukan satu batang per rumpun. Sehingga bibit per rumpun dapat lebih dari satu batang apabila bibitnya telah beranak.
`Untuk mendapatkan populasi maksimal, setelah tanam dilakukan penyulaman terhadap bibit yang tidak tumbuh/ mati dengan bibit yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Penyulaman dilakukan maksimum satu minggu setelah tanam untuk mempertahankan populasi yang optimal.
Pemupukan Kesuburan tanah beragam antar lokasi karena perbedaan sifat fisik dan kimianya. Dengan demikian kemampuan tanah untuk menyediakan hara bagi tanaman juga ber beda-beda. Pemupukan dimaksudkan untuk menambah penyediaan unsur hara sehingga mencukupi kebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik, agar efisien, takaran pupuk hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan P dan K dalam tanah. Sedangkan untuk N takaran dan pemberian disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) Pemupukan dilakukan dengan cara menebar pupuk merata keseluruh areal tanaman. Pada saat pemupukan dan 3 hari setelah pemupukan saluran pemasukan dan pembuangan air ditutup.
Pengairan berselang difokuskan pada musimkemarau, sedangkan pada musim hujan hanya dilakukan didaerah yang pengairannya dapat diatur. Pengairan berselang adalah : Sewaktu tanam bibit, lahan dalam kondisi macak-macak.
- Secara berangsur-angsur lahan diairi setinggi 2-5 cm hingga tanaman berumur 10 hst. Pada fase ini penggunaan air sangat kritis dan untuk menghambat pertumbuhan biji gulma.
Lahan tidak diairi sampai 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari, kemudian diairi kembali setinggi 5-10 cm. Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari menjelang panen, lahan terus digenangi air setinggi 5 cm. Kekurangan air dari fase bunting sampai fase bunga dapat meningkatkan gabah hampa atau sebagaian gabah berisi. 10 hari menjelang panen lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen.
Pengendalian OPT Pengendalian Gulma Penyiangan dilakukan dengan manual atau landak/ osrok. Penyiangan I, dilakukan sedini mungkin, maksimal pada umur 18 hst (sebelum pemupukan II).
Penyiangan II, dilakukan jika masih banyak gulma yang tumbuh, dilakukan pada umur 30 hst (sebelum pemupukan III). Penyiangan III (mbrasak) dilakukan jika masih banyak gulma yang tumbuh, dilakukan pada umur 45 hst Rumput/gulma yang dicabut dibenamkan kedalam tanah (untuk menambah bahan organik)
Pengendalian Hama dan penyakit Tanaman (HPT) Pengamatan dilakukan setiap saat/ hari mulai dari persemaian hingga menjelang panen. Pada 3-5 hari sebelum menabur benih, dilakukan pengendalian hama tikus secara serempak. Upaya pencegahan dan pengendalian HPT dengan cara bijaksana mengacu pada konsep PHT. Hama yang perlu diwaspadai adalah wereng coklat, penggerek batang, tikus dan walang sangit sedangkan penyakit adalah Tungro hawar daun bakteri blast. Serangan burung menjelang panen perlu diwaspadai Jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan h/p padi.
Penanganan pasca panen merupakan kegiatan utama untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu beras. Dalam prosesnya pasca panen merupakan rangkaian yang luas dan kompleks yang tidak hanya ditentukan oleh masalah tehnis saja tetapi juga melibatkan masalah social dan ekonomi yang menyangkut berbagai sector dan disiplin.
Penentuan saat panen yang tepat didasarkan : 85% malai menguning, sebagaian daun bendera telah mongering Kerontokan gabah sekitar 25-30%, diukur dengan meremas malai dengan tangan. Kadar air mencapai 22-25% Umur optimal berkisar 30-35 hari setelah berbunga merata. Cara –cara panen anjuran :

1. lahan pertanaman dikeringkan dahulu 7-10 hari sebelum panen. 2. panen menggunakan sabit bergerigi, sehingga kapasitas pemanenan dapat dipercepat 20 jam per ha.. Sabit bergerigi 93 jam per Ha per orang sedangkan sabit biasa 113 jam (UGM,1984) 3. cara memotong padi dianjurkan sedekat dengan tanah, hasil panen diletakan diatas wadah/tikar/alas, kemudian dibawa ketempat perontokan dengan menggunakan wadah.
Cara perontokan menggunakan pedal tresher, menggunakan mesin perontok (power tresher)
Pembersihan dilakukan segera setelah perontokan dengan cara : pembersihan awal dilakukan disawah dengan menggunakan ayakan dari bambu/kawat agar kotoran atau sisa daun dan batang kasar terbuang. selanjutnya dengan menampi, dianginkan atau menggunakan blower. Untuk menekan serendah mungkin perlu menggunakan alas dari tikar, anyaman bambu, karung plastic dsb.
Tempat pengeringan : Alas yang baik dibuat dari semen dan dibuat bergelombang sehingga penyerapan matahari menjadi tinggi, permukaan lebih luas, aur hujan lebih cepat mengalir dan lantai dapat kering.
Cara pengeringan. dimusim kemarau dilakukan sbb : Ketebalasan lapisan gabah 5-7 cm,Setiap 1-2 jam sekali dilakukan pembalikan menggunakan kayu atau bamboo Waktu yang dianjurkan jam 07.00 pagi sampai dengan jam 16.00 sore terganyung cahaya matahari. Dimusim hujan gabah dihamparkan dengan ketebalan 2-3 cm,setiap 1-2 jam sekali dilakukan pembalikan, menggunakan kipas atau blower sebagai sinar matahari dapat digunakan lampu petromak, bahan baker sekam
Dalam penyimpanan yang perlu diperhatikan : Sifat dan mutu gabah,Kondisi gabah serta Bangunan tempat penyimpanan Anjuran-anjuran
Mutu bahan : gabah yang akan disimpan sebaiknya : dalam keadaan kering dengan kadar air maksimal 14%, bersih dari kotoran/gabah hampa maksimum 3 %, menggunakan karung yang baru , bila terpaksa menggunakan karung bekas harus direndam dulu dalam air panas sehingga hama mati dan kemudian dijemur sampai kering.


BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum “Intensifikasi Budidaya Padi” dilaksanakan pada hari kamis 30 April pada pukul 13.00 WIB, bertempat di Dusun Krajan Desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan dan alat disesuaikan dengan kebutuhan kelompok tani setempat untuk pelaksanaan budidaya padi, misalnya benih yang ditanam, macam pupuk, alat pengolahan tanah, dan alat pemeliharaan tanaman dan pengendalian hama dan penyakit.
1. Alat tulis
2. Quesioner
3. Jas almamater
4. Kendaraan bermotor

3.3 Pelaksanaan dan Cara kerja
Langkah-langkah pelaksanaan cara kerja kegiatan praktikum adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa (praktikan) dibagi dalam empat kelas, dari masing-masing kelas dibagi dalam empat kelompok yang akan mempelajari teknik budidaya dari empat kelompok tani.
2. Sebagai objek praktikan adalah kelompok usaha tani padi Yang dianggap sebagai sampel dala populasi kegiatan praktikum.
3. Praktikan terjun langsung ke lapangan, kemudian meminta petani/ kelompok tani untuk menjadi responden dalam pengumpulan data.
4. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan diskusi dengan kelompok tani melalui pengisian kuesioner (data primer) maupun data dari studi pustaka, instansi terkait, dari penyuluh lapangan/ PPL (data sekunder).
5. Bentuk kuesioner terdiri dari teknik budidaya padi mulai dari pemilihan varietas, benih persemaian, persiapan dsan pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, irigasi, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut data-data yang didapat dari responden yang berasal dari Dusun Krajan Desa Kamal, Kec. Arjasa-Jember didapatkan bahwa,
Dalam jadwal penanamannya mereka melakukan pergiliran tanaman, mulai dari tanaman padi, padi dan jagung/tembakau. Bila musim kemarau tiba, saatnya petani melakukan pergiliran tanaman, dari padi ke jagung/tembakau. Selain itu pergiliran tanaman mempunyai fungsi khusus yaitu memutus siklus perkembang biakan hama dan penyakit tanaman selain itu untuk menekan terjadinya erosi dan mencegah terkurasnya unsur hara dari dalam tanah. Pergiliran tanaman diperlukan juga untuk mempertahankan dan memperbaiki sifat-sifat fisik dan kesuburan tanah. Ini terjadi bila sisa tanaman dijadikan kompos atau mulsa yang dibenamkan dalam tanah. Hal ini akan mempertinggi kemampuan tanah dalam menahan dan menyerap air, mempertinggi stabilitas dan kapasitas daya serap tanah. Varietas padi yang digunakanpun bermacam-macam tergantung dari kondisi lingkungan dan iklim, misalnya jenis padi yang biasa ditanam di daerah ini antara lain :
1. Padi Gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo,
suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah.
2. Padi Bojonegoro
3. Padi Ciherang
Sebenarnya Ciherang adalah hasil persilangan antara varietas IR 64dengan varietas lain. Sebagian sifat IR 64 juga dimiliki oleh Ciherang, termasuk hasil dan mutu berasnya yang tinggi sehingga disukai banyak orang, kelebihannya adalah Ciherang memiliki keunggulan dalam hal umur tanam yang pendek , hanya 80 – 96 hari saja atau tiga bulan sepuluh hari, sehingga mempercepat panen dan meningkatkan produksi padi. “Dengan perlakuan yang sama, jenis padi ciherang bisa menghasilkan 10 ton gabah kering panen per haektar atau delapan sampai sembilan ton gabah kering giling).
4. Padi Sinta Nur
Sintanur merupakan beras/padi varietas lokal yang dikembangkan
lewat perkawinan silang secara alami yang melibatkan benih varietas lokal. Persilangan tersebut yaitu antara varietas pandan wangi dan lusi. Pandan wangi dengan wanginya yang sangat khas dan lusi dengan sifat pulennya yang kentara. Persilangan varietas lokal ini bukan GMO (genetic modified organism) sehingga sangat aman untuk dikonsumsi.
Oleh karena itu beras organik (organic rice) Sintanur jika dimasak rasanya sangat enak. Wangi sekaligus sangat pulen. Beras organik sintanur bahkan lebih pulen daripada beras organik pandan wangi, dengan tingkat aroma wangi yang hampir dikatakan sama dan beras organik (organic rice) varietas sintanur ternyata tidak banyak dikenal orang. Padahal dari sisi rasa tidak kalah dengan beras organik (organic rice) varietas lain. Biasanya petani biasa membeli benih bersertifikasi pada kios-kios pertanian yang berada di daerah Kec. Arjasa.
Persemaian padi dilakukan dengan menyebar benih padi secara merata pada bedengan dengan kandungan air jenuh tetapi tidak menggenang. Dalam tiga atau empat hari benih telah berkecambah. Tanaman muda yang berumur tiga minggu siap dicabut dan dipindah ke lahan sawah. Budidaya padi lahan kering tidak memerlukan persemaian. Penanaman padi di sawah umumnya ditanam dengan jarak teratur. Yang paling popular di Pulau Jawa adalah berjarak 20 cm. Tanaman muda ditancapkan ke dalam tanah yang digenangi air sedalam 10 sampai 15 cm hingga akarnya terbenam di bawah permukaan tanah. Persemaian dilakukan dengan persemaian basah, yang luasnya untuk kurang lebih 1 Ha, adalah sebesar 100m persegi dengan menyediakan benih sebanyak 50-60 kg dengan daya perkecambahan sebanyak 80%. Pengolahan tanah untuk persemaian juga diperlukan untuk mengendalikan gulma dan menggemburkan tanah persemaian, menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisis, kemis, maupun biologis, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah terutama akan memperbaiki secara fisis, perbaikan kemis dan biologis terjadi secara tidak langsung. sehingga perakaran mudah terbentuk. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara kering yaitu dengan menggunakan bajak sapi, traktor, bahkan tenaga manusia. Kegiatan pengelolaan tanah dalam persemaian dilakukan dengan menggunakan cangkul, cangkul digunakan untuk menggali, membersihkan tanah dari rumput ataupun untuk meratakan tanah. Pada persemainan digunakan bedengan dengna ukuran 2mxam untuk mempermudah pengawasannya.Dalam persemaian juga ditemukan adanya jama ulat penggerek, namun petani mengendalikan dengan upaya pemberian pestisida jenis ‘desis’ untuk membasminya. Pemeliharaan dalam persemaian adalah dengan memberikan Urea (10 kg dalam 40 kg benih padi). Bibit yang dihasilkan dapat dipindahkan ke sawah pada umur 3 minggu (kira-kira 24 hari).
Sebelum memindah/menanam benih padi, sebaiknya dilakukan pengolahan tanah sawah terlebih dahulu, Pengolahan tanah dalam usaha budidaya pertanian bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisis, kemis, maupun biologis, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah terutama akan memperbaiki secara fisis, perbaikan kemis dan biologis terjadi secara tidak langsung. Kegiatan pengolahan tanah dibagi ke dalam dua tahap, yaitu: (1) Pengolahan tanah pertama (pembajakan), dan (2) Pengolahan tanah kedua (penggaruan). Dalam pengolahan tanah pertama, tanah dipotong, kemudian dibalik agar sisa tanaman dan gulma yang ada di permukaan tanah terpotong dan terbenam. Kedalaman pemotongan dan pembalikan tanah umumnya antara 15 sampai 20 cm. Pengolahan tanah kedua, bertujuan menghancurkan bongkah tanah hasil pengolahan tanah pertama yang besar menjad lebih kecil dan sisa tanaman dan gulma yang terbenam dipotong lagi menjadi lebih halus sehingga akan mempercepat proses pembusukan. Selain dengan traktor, pengolahan lahan juga bisa menggunakan tenaga ternak dan manusia, biasanya tergantung luas area yang akan ditanami. Bila dengan menggunakan ternah dilakukan 3x dalam waktu 6 hari, namun bila dengan tenaga mesin hanya dilakukan 1x dengan 1 hari saja. Dengan biaya rincian 10 orang @Rp. 20.000,00, 30 ternah @rp.30.000,00 , dan Rp. 650.000,00 untuk tenaga mesin.
Penanaman dilakukan dengan menanam bibit, tidak menggunakan tabela, karena tabela memiliki banyak kelemahan dan kekurangan, yaitu :
Namun disamping memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, sistem budidaya padi secara tabela ini juga memiliki beberapa kelemahan/kekurangan diantaranya
(a) Sistem tabela hanya dapat digunakan pada musim kemarau. Bila digunakan pada saat musim penghujan benih yang dimasukkan ke dalam lubang akan keluar dan tersebar kemana-mana menyebabkan jarak tanam menjadi tidak teratur.
(b) Dengan sistem tabela, karena air dimasukkan lebih awal pada saat akan membuat lubang, dapat menyebabkan biji-biji gulma berkecambah dan tumbuh lebih awal.
Bibit ditanam setelah berumur 24 hari dengan jumlah 2-3 benih dalam 1 lubang pertanaman dengan menggunakan sistem larikan (alur dengan kayu runcing) dengan jarak tanam 25cmx25cm. Tenaga kerja untuk penanaman yaitu 40 orang/hari hingga selesai tergantung luas area dengan upah @Rp. 15.000,00/hari. Biasanya tidak dilakukan penyulaman dalam penanamannya.
Pemupukan adalah menambahkan/menyediakan unsur hara untuk tanaman. Pemupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil pertanian. Anjuran pemupukan terus digalakkan melalui program pemupukan berimbang (dosis dan jenis pupuk yang digunakan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lokasi/spesifik lokasi, namun sejak sekitar tahun 1996 telah terjadi pelandaian produktivitas (leveling off) sedangkan penggunaan pupuk terus meningkat. Hal ini berarti suatu petunjuk terjadinya penurunan efisiensi pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati. Pupuk dasar yang digunakan biasanya SP-36 dan Phonska. Penggunaan pupuk organik juga telah mulai diterapkan oleh petani yang mulai berpikir agak maju dengan dosis 4kw/Ha dengan cara ditebar kemudian menanam benih padi. Pupuk Urea dan ZA juga digunakan masing-masing pada 15 dan 30 hari setelah penanaman dengan dosis 1,5kw/Ha. Petani juga ada yang menambahkan pupuk daun, yaitu pupuk anorganik yang ditambahkan untuk bertujuan agar unsur-unsur yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh daun atau untuk pembentukan zat hijau daun, namun sayangnya pupuk ini cepat menguap sehingga pelaksanaanya dilakukan pada pagi/sore saja. Biaya pemupukan ini jika dirata-rata mencapai angka Rp. 1.500.000,00.
Sawah di Daerah ini menggunakan sistem irigasi yang dilakukan dengan cara penggenangan sawah secara terus menerus, namun diperlukan pengeringan setelah 50 hari penanaman, hal ini dilakukan agar anakan yang dihasilkan lebih banyak. Pengairan dilakukan dengan bantuan mesin diesel untuk mempermudah kerja petani. Biaya untuk irigasi ini adalah sekitar Rp. 15.000,00/hari. Permasalah terkait adalah adalah musibah kekeringan (di Desa Kamal ini pernah terjadi kekeringan sekitar tahun 2007 silam).
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Gulma yang dominan di daerah ini, petani biasa menyebutnya ‘komes’ dan ‘rumput keriting’, pengendalian yang dilakukan adalah secara mekanik, yaitu dengan mencabut atau menggunakan sabit/parang. Pengendalian gulma biasanya dilakukan saat umur padi 50 hari. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam 1 Ha adalah 200 orang @Rp. 7000,00/hari.
Selain gulma, yang perlu diperhatikan adalah hama dan penyakitnya, Hama yang dominant menyerang adalah walang sangit dan penyakit putih pada daun padi. Upaya pengendalian petani adalah dengan menggunakan pestisida untuk wereng dan garam kasar untuk penyakit. Biaya tenaga kerja adalah Rp. 15.000,00/hari.
Yang paling ditunggu-tunggu oleh petani adalah panen. Pengeringan sawah dilakukan 90 hari sebelum masa panen. Kriteria padi sudah waktu panen adalah berwarna kuning (menurut sumber kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak). Untuk memanen biasanya petani menggunakan sabit. Perontokan padi dilakukan setelah didiamkan selama 24 jam untuk mengurangi kadar air dan padi lebih kering sehingga mudah dibersihkan, peralatan yang digunakan petani biasa menyebutnya ‘gebrek’ yang masih sangat sederhana. Alat untuk membersihkan adalah dengan cara diangin-anginkan saja tanpa adanya upaya pengeringan langsung dijual. Hasil gabah per-hektar adalah sekitar 5-6 ton/ha dengan harga R0. 280.000,00/kw yang pada panen raya bisa turun hingga Rp. 200.000,00 karena jumlah produksi yang melimpah.








BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Menurut Praktikum Acara 1 Produksi Tanaman, tentang “wawancara dengan petani Budidaya tanaman padi“ yang dilakukan di Dusun Krajan Desa KamaL, Jember, kesimpulan yang didapat, antara lain :
Petani di desa ini umumnya menggunakan padi varietas cibogo, ciheran, cintanul dan bojonegoro, sistem budidaya yang dilakukan oleh petani di desa ini umumnya secara tradisional, dan menurut pengakuan bapak abdul hakim, bahwa petani di desa krajan ini rata-rata memiliki sawah yang ukurannya relatif kecil-kecil.
Petani di desa krajan kurang terbuka dengan teknologi sehingga hasil produksi petani relatif rendah khususnya dalam hal budidaya tanaman padi.

5.2 Saran
Petani di desa krajan hendaknya menerima teknologi inovasi yang di tawarkan, agar dalam memenejement budidaya dengan baik sehingga hasil produksi padinya tinggi, untuk mencapai tersebut maka petani harus melakukan pendekatan dengan para kaum ilmiah sehingga dapat menggabungkan antara teori dan praktik sehingga dapat memperbaiki pengetahuan petani dalam teknologi budidaya tanaman padi yang baik sehingga memberikan hasil yang optimum.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimos, 2007 .Petunjuk Tehnis Penyebaran peningkatan Penggunaan Benih Padi Hibrida , Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur.

Anonimos,2007 .Petunjuk tehnis Tehnologi Budidaya Padi Hibrida di Jawa Timur.

Anonimos,1985, Hama Tungro. Departemen Pertanian. Proyek Pengembangan penyuluhan Pertanian/NAEP.Jakarta

Anonimus, 1983-1984. Beberapa hama penting pada padi. Departemen Pertanian. Proyek Informasi Pertanian Wonocolo,Jawa Timur

Anonimus,, 1982, Penanganan Pasca panen Padi.. Departemen Pertanian. Proyek Informasi Pertanian ,Balai Informasi Pertanian Wonocolo,Surabaya

B.S Vegara,1990. Bercocok tanaman padi. Proyek Prasarana Fisik. Bappenas
AAK, 1990. Budidaya Tanaman Padi. Kanisius Yogyakarta.

Ir. Edy Purnomo,1996. Teknologi penanaman padi sistim jajar legowo.Lembar Informasi Pertanian Balai penelitian Tehnologi Pertanian Karangploso.

Suwono,dkk, 2001 Acuan Pemupukan Spesifik Lokasi untuk Padi sawah di Jawa Timur. Badan penelitian dan pengembangan Pertanian BPTP Jawa Timur.

Minggu, 25 April 2010

Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 16.25 | No comments

Tanah adalah akumulasih tubuh alam bebas


PENDAHULUAN
Latar Belakang

Menurut Donahue (1970) Tanah adalah akumulasih tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Tanah merupakan system multi komponen terdiri dari padatan, cairan, dan gas. susunan sifat kimia fase cair dan udarah tanah tergantung interaksinya dengan padatan tanah.
Susunan kimia pada tanah sebenarnya sangat bervariasi , tergantung dari masing-masing faktor antara lain bahan induk tanah, proses pembentukanya, keadaan iklim, bentuk wilayah dan sebagainya.
Untuk memproduksi tanaman secara optimal maka tanah harus memenuhi syarat kimia, fisika dan biologi secara seimbang, selain itu tanah harus cukup mengandung unsur Nitrogen, Phosphor, dan Kalium serta memiliki PH yang netral.
Apabila tanah yang akan di tanami tidak menjamin ketersediaan hara yang cukup, maka harus dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat tergantung pada kesuburan tanah dan dapat di berikan secara bertahap. Sebagai pertimbangan sebelum melakukan pemupukan maka harus melakukan penentuan kondisi tanah dengan analisis sidik cepat, semua kegiatan tersebut di lakukan untuk meningkatkan kualitas produksi tanaman yang baik. Dengan adanya kegiatan analisis sidik cepat ini maka penambahan unsure N, P, dan K tepat dan efisien serta rama terhadap lingkungan.
Bilman W. Simanihuruk dan kawan-kawan melaporkan, Untuk meningkatkan produksi tanaman, menggunakan pupuk buatan yang berlebihan bukanlah satu-satunya alternative. hal ini di sebabkan oleh tingginya harga pupuk anorganik, selain itu juga pupuk anorganik yang berlebihan dapat meracuni lingkungan dan bahkan meninggalkan residu. oleh karena itu untuk kepentingan efisiensi penggunaan pupuk maka perlu melakukan sidik kadar NPK dan PH tanah, agar dalam pemberian dosisnya tepat, sesuai dengan kebutuhan per areal lahan produksi pertanian.

TINJAUAN PUSTAKA

Bersama unsure fosfor (P) dan Kalium (K), Nitrogen (N) merupakan unsur hara yang mutlak dibutuhkan oleh tanaman. bahan tanaman yang sering mengandung sekitar 2% sampai 4 %; jauh lebih rendah dari kandungan C yang berkisar 40%. Namun hara N merupakan komponen protein (asam amino) dan klorofil, bentuk ion yang diserap oleh tanaman umumnya dalam bentuk NO3- dan NH4+ bagi tanaman padi sawah (Russll,1973)
Sanhez megel (1976) dan Kirkby, (1982).Begitu besarnya peranan N bagi tanaman, maka persediaannya sangat diperhatikan sekali oleh para petani. Sumber bahan N utama berasal dari bahan organik, melalui prosese mineralisasi NH4+ dan NO3-. Selain itu N juga dapat bersumber dari atmosfer ( 78% NV melalui curah hujan (8-10 % N tanah) penambatan (fiksasi) oleh mikroorganisme tanah baik secara sembiosis dengan tanaman maupun hidup bebas. walaupun sumber ini banyak secara alami, namun untuk memenuhi kebutuhan tanaman maka dapat diberikan dalam bentuk pupuk, seperti urea, ZA, dan sebagainya maupun dalam bentuk pupuk kandang ataupun pupuk hijau.
Untuk pertumbuhan vegetatif yang cepat tersebut tanaman memerlukan zat N yang cukup banyak. Zat N ini dapat diberikan melalui bahan organik, atau pun bahan anorganik dalam bentuk sabuk ZA (zwavelzure ammonia) maupun Urea. Kurangan zat N nampak pada daunnya yang menguning, dan pertumbuhannya yang tidak subur ( Hillel, 1980)
pupuk kandang atau kompos harus diberikan sebelum tanam, sebagai rabuk dasar. Untuk tiap-tiap ha, tanaman papaya diperlukan tidak kurang dari 50 ton.
Zat ini penting sekali bagi pembentukan bunga dan untuk mempercepat masaknya buah (pertumbuhan generatif). Zat ini selain penting bagi pertumbuhan generatif, penting pula untuk pertumbuhan akarnya, sehingga tanaman yang mendapat cukup zat P dapat lebih tahan terhadap kekurangan air.
Zat P mempunyai sifat mudah diserap oleh tanah, sehingga tidak mudah diserap oleh akar papaya. Dalam ilmu pemupukan gejala ini disebut “fixasi zat fosfat”. Dengan adanya gejala tersebut, maka zat fosfat harus ditempatkan sedekat-dekatnya dengan akar, terutama pucuk akar, dan jangan disebarkan secara merata. Penyebaran secara merata ini akan mengakibatkan zat fosfat lebih mudah dipixir. Penempatan rabuk fosfat yang baik adalah dengan cara memasukannya dalam lubang yang ditugalkan dalam tanah (Tilman dan Scotes, 1991).
Zat Kalium dalam tanaman yang mempunyai fungsi sangat luas dalam pemupukan tanaman tidak boleh diabaikan. Zat ini mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan zat karbohidrat/gula buah, dan memberi daya tahan terhadap kekeringan pada tanaman. Selanjutnya kualitas/lezatnya buah tidak sedikit dipengaruhi pula oleh zat kalium. Akhirnya dalam perabukan yang lengkap dalam arti kata yang seimbang, rabuk kali merupakan pelengkap agar zat-zat lainnya terhisap oleh akar dengan sebaiknya-baiknya. hal ini minta diperhatikan benar-benar karena bilatanaman dipupuk dengan zat N yang berlebihan tanpa ada imbangan dari zat kalium, akibatnya tanaman daunnya terlalu rimbun dan buahnya mengurang. Tanaman yang kebanyakan zat N (stikstop) kebanyakan tidak tahan terhadap serangan penyakit, pertumbuhan akarnya kurang baik dan akhirnya kurang tahan untukmenghadapi kekeringan.
Sumber dari zat Fosfat dan Kalium selain bahan organis adalah rabuk:DS. (dubbelsuperfosfat) atau triplefosfat dengan kadar zat P 46%. Superfosfat mengandung 18% zat P. ZK (zwavelzure kali) mengandung 15% K. Abu berasal dari beberapa jenis kayu atau pun smpah mengandung pula zat Kalium dengan kadar 2-5% (Mukhlis dan Fauzi,2003)
Bahan organis selain menjadi sumber zat NPdan K merupakan bahan dalam pembentukan “humus” (bunga tanah) dalam tanah yang dapat menjamin tanah tetap cerul/remah, cukup mengandung udara dan tetap lembab
Keasaman dalam larutan itu dinyatakan sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau sebagai pH yang artinya –log [H+]. Dengan kata lain pH merupakan ukuran kekuatan suatu asam. pH suatu larutan dapat ditera dengan beberapa cara antara lain dengan jalan menitrasi lerutan dengan asam dengan indikator atau yang lebih teliti lagi dengan pH meter. pH berkisar antara 10-1sampai 10-12mol/liter. Makin tinggi konsentrasi ion H, makin rendah –log [H+] atau pH tanah, dan makin asam reaksi tanah. Pada umumnya, keasaman tanah dibedakan atas asam, netral, dan basa. Ion H+dihasilkan oleh kelompok organik yang dibedakan atas kelompok karboksil dan kelompok fenol. Tipe keasaman aktif atau keasaman actual disebabkan oleh adanya Ion H+dalam larutan tanah. Keasaman ini diukur menggunakan suspensi tanah-air dengan nisbah 1 : 1; 1 : 2,5; dan 1 : 5. Keasaman ini ditulis dengan pH (H2O).
Tipe keasaman potensial atau keasaman tertukarkan dihasilkan oleh ion H+dan Al3+tertukarkan yang diabsorbsi oleh koloid tanah. Potensial keasaman diukur dengan menggunakan larutan tanah-elektrolit, pada umumnya KCl atau CaCl2. Karena ion H dan Al yang diabsorbsi koloid tanah dalam keadaan seimbang (equilibrium)dengan ion H+dalam larutan tanah maka terdapat hubungan yang dekat antara kejenuhan (H+Al) dan pH, demikian juga dengan persentase kejenuhan basa pada pH. Tanah yang ekstrem asam dengan (H+Al) mendekati 100% kurang lebih mempunyai pH sama dengan asetat pH 3,5
Keasaman (pH) tanah diukur dengan nisbah tanah : air 1 : 2,5 (10 g tanah dilarutkan dengan 25 ml air) dan ditulis dengan pH2,5(H2O). Di beberapa laboratorium, pengukuran pH tanah dilakukan dengan perbandingan tanah dan air 1 : 1 atau 1 : 5. Pengukuran pada nisbah ini agak berbeda dengan pengukuran pH2,5karena pengaruh pengenceran terhadap konsentrasi ion H. Untuk tujuan tertentu, misalnya pengukuran pH tanah basa, dilakukan terhadap pasta jenuh air. Hasil pengukuran selalu lebih rendah daripada pH2,5 karena lebih kental dan konsentrasi ion H+lebih tinggi.
Pengukuran pH tanah di lapangan dengan prinsip kolorimeter dengan menggunakan indikator (larutan, kertas pH) yang menunjukkan warna tertantu pada pH yang berbeda. Saat ini sudah banyak pH-meter jinjing (portable)yang dapat dibawa ke lapangan. Di samping itu, ada beberapa tipe pH-meter yang dilengkapi dengan elektroda yang secara langsung dapat digunakan untuk pH tanah, tetapi dengan syarat kandungan lengas saat pengukuran cukup tinggi (kandungan lengas maksimum atau mungkin kelewat jenuh). Kesalahan pengukuran dapat terjadi antara 0,1 – 0,5 unit pH atau bahkan lebih besar karena pengaruh pengenceran dan faktor – faktor lain.
Untuk mengukur pH basa kuat di lapangan, indikator fenolptalin (2 g indikator fenolptalin dalam 200 ml alkohol 90%) yang tidak berwarna sangat bermanfaat karena akan berubah menjadi ungu sampai merah pada pH 8,3 – 10,0. Kondisi yang sama dalam pengukuran pH di lapangan pada kondisi luar biasa asam digunakan indikator Brom Cresol Green (0,1 g dilarutkan dalam 250 ml 0,006 N NaOH) yang berubah menjadi hijau sampai kuning pada pH 5,3 dan lebih rendah daripada 3,8.
Untuk mengetahui pH tanah di lapangan, secara umum dapat digunakan indikator universal (campuran 0,02 g metil merah, 0,04 g bromotimol blue, 0,04 g timol blue, dan 0,02 g fenolptalin dalam 100 ml alkohol encer (70%).

DAFTAR PUSTAKA

Hilel, D. 1980. Fundamentals of soil physics. Academi Press

Rusell, E.W. 1973. Soil condition and plant Growt 10th edition Longman. Blacwell scientific pulbl

Mukhlis dan Fauzi. 2003. Pergerakan unsure hara Nitrogen dalam tanah. Usu digital Library

Donahue, R. L,W. 1970. Soils an introduction to soil and plant growth. Prentice hall, inc. New Jersey


Bilman W. Simanihuruk, Abimanyu D. Nusantara dan Faradila.F. 2002.Peran EM5 dan Pupuk NPK dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis pada lahan alang-alang. Journal ilmu pertanian. vol 4, no. 1, hlm 56- `61

Widarto, Zainul Kamal dan Suroso. 2007. Penentuan kadar Unsur di dalam daun krenyu dengan metode analisis neutron cepat. Journal ISSN 1978-0176


http://agrica.wordpress.com pengukuran-ph-tanah/ di download pada hari sabtu 24 oktober 2009.
Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 10.52 | 2 comments

Perkembangbiakan tanaman secara vegetatif

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia hidup hampir mutlak tergantung pada tanaman untuk bertahan hidup.Bahan yang dimakan tersebut tanpa ada kecualinya, adalah bahan – bahan yang berasal dari tanaman dan diturunkan dari tanamam seperti daging telur dan hasil – hasil susu.Tanaman juga sebagai sumber terbesar, baik langsung maupun tidak langsung, untuk sebangian besar bahan pakaian, bahan bakar, obat- obatan, bahan kontruksi dan lain sebagainya.
Dengan mempertimbangkan sangat pentingnya tanaman, manusia mengadakan inovasi baru untuk memperbanyak tanaman dengan menghasilkan jumlah yang banyak dan waktu yang singkat.
Perkembangbiakan tanaman banyak ditekankan pada usaha mempertinggi produksivitas hasil pertanian.Perkembangbiakan tanaman sangat berperan besar dalam mempertinggi produksivitas pertanian.Ada dua cara pembiakan tanaman ialah:
(1) Secara generatif/reproduktif (secara kawin) dengan menggunakan benih (biji yang memenuhi persyaratan sebagai bahan tanaman;
(2) Secara vegetatif (secara tak kawin) dengan menggunakan organ vegetatif.
Pembiakan generative yaitu pembentukan biji melalui proses penyerbukan (jatuhnya tepung sari pada kepala putik) kemudian dilanjutkan dengan pembuahan (peleburan antara gamet jantan dari tepung sari dan gamet betina dari putik).
Pembiakan vegetatif yaitu menggunakan organ vegetatif: Secara alami dengan penggunaan biji apomiktik (terbentuk tanpa pembuahan dan merupakan bentuk vegetatif) dan penggunaan organ-organ khusus tanaman (hasil modifikasi batang atau akar, misalnya: bulb, tuber, rhizome, dll);


Secara buatan dengan stimulasi akar dan tunas adventif ialah cangkok, setek, penyambungan tanaman dan kultur jaringan.
Hasil dari pembiakan secara vegetatif tidak kalah baiknya dengan hasil pembiakan generative.Lebih – lebih perkembangbiakan secara vegetatif memiliki tingkat efisiensi lebih baik dari pada perkembangbiakan dengan cara generative. Misalnya saja dalam produksi buah, dalam waktu penanaman yang bersamaan. Perkembangbiakan dengan cara vegetative yang akan menghasilkan buah terlebih dahulu.
1.2 Perumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana cara budidaya tanaman baik dengan menggunakan perkembangbiakan vegetative maupun pun generative ?
1.2.2 Bagaimana perlakuan – perlakuan yang harus diberikan pada tanaman, agar tanaman dapat berhasil dikembangbiakan

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu:
1. Mengenal dan Mempelajari jenis-jenis perkembangbiakan pada tanaman.

BAB.2 ISI

Dalam suatu perkembang biakan tanaman banyak sekali cara-cara yang dapat dilakukan hanya saja dalam cara-cara tersebut dibagi menjadi 2 aspek yaitu perkembangbiakan Vegetatif dan perkembangbiakan Generatif.
A. Perkembang biakan Vegetatif.
Pekembangbiakan vegetatif dapat dilakukan dengan berbagai cara.beberapa contoh yaitu dengan cara cangkok,stek,penyambungan maupun okulasi.
a). Perkembang biakan vegetatif secara cangkok.
Mencangkok merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya dan cepat menghasilkan. Pencangkokan dilakukan dengan menyayat dan mengupas kulit sekeliling batang, lebar sayatan tergantung pada jenis tanaman yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan kambiumnya dapat dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat cukup kering, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkokan cepat berakar. Media tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan sistem perakaran yang bagus, batang dapat segera dipotong dan ditanam di lapang. Cara pembiakan dengan cara mencangkok dipilih dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, misalnya kita menginginkan tanaman baru yang mempunyai sifat persis seperti induknya. Sifat ini meliputi ketahanannya terhadap hama dan penyakit, rasa buah (khususnya untuk tanaman buah-buahan), keindahan bunga (untuk tanaman hias) dan sebagainya. Karena seperti yang kita ketehui bahwa hasil cangkokan bisa dikatakan hampir seratus persen menyerupai sifat induknya. Seandainya terdapat penyimpangan sifat biasanya disebabkan oleh mutasi gen. Walaupun banyak keunggulannya, namun teknik perbanyakan dengan mencangkok ini tidak terlepas dari beberapa kelemahan.


Sebenarnya mencangkok dapat dilakukan baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Bila mencangkok pada musim kemarau, memang kita harus rajin menyiraminya agar kelembaban media tetap terjaga. Tetapi lazimnya cangkokan lebih cepat jadinya, karena pada saat ini pertumbuhan akar sedang aktif. Sedangkan bila mencangkok dilakukan pada musim hujan, tentunya kita tidak akan repot menyiraminya. Lagi pula bila kita lakukan pada awal musim hujan, maka dalam musim itu juga cangkokan telah jadi bibit dan dapat ditanam. Tumbuhan meperoleh zat-zat hara dari lingkungan. Penyerapan bahan itu berlangsung secara difusi, osmosis dan transpor aktif. Pada tumbuhan bersel satu/bahan-bahan dapat diserap langsung dari lingkungannya melalui proses-proses tersebut. Tetapi tumbuhan tingkat tinggi, memerlukan sistem pengkutan yang lebih panjang dari proses-proses itu, yaitu dibantu dengan sistem pembuluh angkut (vaskuler) yang lebih menguntungkan Tujuan pencangkokan adalah untuk mendapatkan anakan/bibit untuk pembangunan bank klon, kebun benih klon, kebun persilangan, karena dengan teknik ini bibit yang dihasilkan bersifat dewasa sehingga lebih cepatber bunga/berbuah. Pencangkokan dilakukan pada pohon-pohon plus yang telah dipilih di kebun benih.Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.Penggunaan teknik mencangkok dilakukan dalam rangka penyediaan materi untuk bank klon, kebun persilangan dan kebun benih klon. Bahan dan peralatan yang digunakan antara lain media cangkok (moss cangkok, top soil dan kompos), bahan pembungkus cangkok dari polibag hitam, tali rafia, zat pengatur tumbuh akar, insektisida, pita label, spidol permanen, pisau cangkok, parang, gergaji tangan dan alat tulis.
Pembuatan cangkokan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Penyiapan media cangkok terdiri atas campuran antara moss cangkok, top soil dan kompos. Sebelum digunakan media disiram dengan air sampai cukup kelembabannya, serta ditaburi insektisida secukupnya supaya media tidak dijadikan sarang semut dan membunuh hama uret.


2. Pemanjatan pohon dan pemilihan cabang yang sehat dengan diameter rata-rata 2 cm - 4 cm. Cabang dikerat sepanjang 5 cm dengan menggunakan pisau cangkok, kulit cabang dikelupas dan bagian kambiumnya dibersihkan dengan cara dikerik dan dibiarkan beberapa menit. Posisi keratan kulit sekitar 30 cm dari pangkal cabang. Setelah itu bagian sayatan diolesi dengan larutan ZPT untuk memacu pertumbuhan akar.
3. Menutup luka sayatan pada cabang dengan campuran media yang telah disiapkan, kemudian ditutup dengan polibag hitam dan diikat dengan tali rafia sehingga media cangkok stabil. Bagian pembungkus cangkok dilubangi agar memudahkan masuknya air atau keluarnya akar ketika cangkok telah berakar dengan baik.
4. Memberi label yang berisi tanggal pencangkokan, perlakuan dan pelaksana.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan pencangkokan antara lain :
a. Pencangkokan sebaiknya dilakukan pada musim hujan sehingga akan membantu dalam menjaga kelembaban media sampai berakar.
b. Pengambilan cangkok dilakukan setelah cangkok berumur 2 - 3 bulan. Pemotongan cangkok menggunakan gergaji kemudian diturunkan secara hati-hati. Cangkok yang terlalu panjang dipotong sebagian dan daunnya dikurangi untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu besar.
c. Cangkok yang telah dipisahkan dari pohon induknya segera ditanam (aklimatisasi) pada media campuran tanah dengan kompos/pupuk kandang (3:1). Kegiatan ini dilakukan di persemaian yang diberi naungan dengan intensitas cahaya lebih dari 50%. Pemeliharaan cangkok di persemaian dilakukan sampai bibit siap ditanam di lapangan. Biasanya setelah 3 bulan cangkok telah memiliki perakaran yanag kompak dan siap dipindahkan ke lapangan.
d. Pembuatan cangkok pada satu pohon tidak bisa dilakukan dalam jumlah banyak, karena akan mengganggu atau merusak pohon tersebut.



b). Perkembangbiakan Secara Stek
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan. Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Stek dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
1. Stek Daun
Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan pada stek daun dapat berupa lembaran daun atau lembaran daun beserta petiol. Bahan awal pada stek daun tidak akan menjadi bagian dari tanaman baru. Penggunaan bahan yang mengandung kimera periklinal dihindari agar tanaman-tanaman baru yang dihasilkan bersifat true to type Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer atau meristem sekunder. Pada tanaman Bryophyllum, akar dan tunas baru berasal dari meristem primer pada kumpulan sel-sel tepi daun dewasa, tetapi pada tanaman Begonia rex, Saint paulia (Avrican violet), Sansevieria, Crassula dan Lily, akar dan tunas baru berkembang dari meristem sekunder dari hasil pelukaan. Pada beberapa species seperti Peperomia, akar dan tunas baru muncul dari jaringan kalus yang terbentuk dari aktivitas meristem sekunder karena pelukaan. Masalah pada stek daun secara umum adalah pembentukan tunas-tunas adventif, bukan akar adventif. Pembentukan akar adventif pada daun lebih mudah dibandingkan pembentukan tunas adventif .Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjang 7,5 – 10 cm (Sansevieria) atau memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann et al, 1997). Untuk Begonia dan Violces, perlakuan kimia yang umum dilakukan adalah penyemprotan dengan IBA 100 ppm.
2. Stek Umbi
Pada stek umbi, bahan awal untuk perbanyakan berupa umbi, yaitu: umbi batang, umbi kakr, umbi sisik, dan lain-lain. Senagai bahan perbanyakan, umbi dapat digunakan utuh atau dipotong-potong dengan syarat setiap potongannya mengadung calon tunas. Untuk menghindari terjadinya busuk pada setiap potongan umbi, maka umbi perlu dierandap dalam bakterisida dan fungisida. Contoh tanaman yang bisa diperbanyak dengan stek umbi antara lain: Solanum tuberosum, Ipomoea batatas, Caladium, Helianthus tuberosus, Amarilis, dan lainlain.
3. Stek Batang
Bahan awal perbanyakan berupa batang tanaman. Stek batang dikelompokkan menjadi empat macam berdasarkan jenis batang tanaman, yakni: berkayu keras, semi berkayu, lunak, dan herbaceous. Bahan tanaman yang biasa diperbanyak dengan stek batang berkayu keras antara lain: apel, pear, cemara, dan lain-lain, dengan perlakuan kimia IBA atau NAA 2500 – 5000 ppm. Panjang stek berkisar antara 10 – 76 cm atau dua buku (nodes). Stek batang semi berkayu, contohnya terdapat pada tanaman Citrus sp. dengan perlakuan kimia yang sudah umum yaitu IBA dan NAA 1000 – 3000 ppm dan panjang stek 7,5 – 15 cm. Pada stek batang semi berkayu ini, daun-daun seharusnya dibuang untuk mengendalikan transpirasi. Disamping itu, pelukaan sebelumnya mungkin dapat membantu pengakaran. Untuk stek batang berkayu lunak, contohnya terdapat pada tanaman Magnolia dengan perlakuan IBA atau NAA 500 – 1250 ppm dan panjang stek 7,5 – 12,5 cm. Pada stek batang berkayu lunak ini umumnya akar relatif cepat keluar (2 – 5 minggu). Stek batang yang tergolong herbaceus, dilakukan pada tanaman Dieffenbachia, Chrisanthemum, dan Ipomoea batatas. Pada dasarnya perlakuan auksin tidak diperlukan pada stek batang herbaceous ini, tetapi kadang diberikan IBA atau NAA 500 –1250 ppm dan panjang stek yang biasa digunakan adalah 7,5 – 12,5 cm

c). Perkembangbiakan secara Sambung.
Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian tanaman yang disambungkan atau disebut batang atas (scion) dan merupakan sepotong batang yang mempunyai lebih dari satu mata tunas (entres), baik itu berupa tunas pucuk atau tunas samping. Penyambungan batang bawah dan batang atas ini biasanya dilakukan antara dua varietas tanaman yang masih dalam spesies yang sama. Misalnya penyambungan antar varietas pada tanaman durian. Kadang-kadang bisa juga dilakukan penyambungan antara dua tanaman yang berlainan spesiesnya tetapi masih dalam satu famili. Tanaman mangga (Mangifera indica) disambung denga tanaman kweni (Mangifera odorata). Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Tipe sambungan jika ditinjau dari bagian batang bawah yang disambung:
1. Sambung pucuk (top grafting)
Sambung pucuk merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau pucuk dari batang bawah. Caranya sebagai berikut:
• Memilih batang bawah yang diameter batangnya disesuaikan dengan besarnya batang atas. Tanaman durian, belimbing dan sirsak sudah bisa disambung bila besarnya batang bawah sudah sebesar ujung pangkal lidi. Alpukat, manggis dan
mangga disambung bila batangnya sudah sebesar pensil. Umur batang bawah pada keadaan siap sambung ini bervariasi antara 1-24 bulan, tergantung jenis tanamannya. Untuk durian umur 3-4 bulan, mangga dan alpukat umur 3-6 bulan. Manggis pada umur 24 bulan baru bisa disambung karena sifat pertumbuhannya lambat.


• Batang bawah dipotong setinggi 20-25 cm di atas permukaan tanah. Gunakan silet, pisau okulasi atau gunting setek yang tajam agar bentuk irisan menjadi rapi. Batang bawah kemudian dibelah membujur sedalam 2-2,5 cm.
• Batang atas yang sudah disiapkan dipotong, sehingga panjangnya antara 7,5-10 cm. bagian pangkal disayat pada kedua sisinya sepanjang 2-2,5 cm, sehingga bentuk irisannya seperti mata kampak. Selanjutnya batang atas dimasukkan ke dalam belahan batang bawah.
• Pengikatan dengan tali plastikyang terbuat dari kantong plastik ½ kg selebar 1 cm. Kantong plastik ini ditarik pelan-pelan, sehingga panjangnya menjadi 2-3 kali panjang semula.Terbentuklah pita plastik yang tipis dan lemas.
• Pada waktu memasukkan entres ke belahan batang bawah perlu diperhatikan agar kambium entres bisa bersentuhan dengan kambium batang bawah. Sambungan kemudian disungkup dengan kantong plastik bening.Agar sungkup plastik tidak lepas bagian bawahnya perlu diikat.Tujuan penyungkupan ini untuk mengurangi penguapan dan menjaga kelembaban udara di sekitar sambungan agar tetap tinggi.
• Tanaman sambungan kemudian ditempatkan di bawah naungan agar terlindung dari panasnya sinar matahari. Biasanya 2-3 minggu kemudian sambungan yang berhasil akan tumbuh tunas. Sambungan yang gagal akan berwarna hitam dan kering. Pada saat ini sungkup plastiknya sudah bisa dibuka.Namun, pita pengikat sambungan baru boleh dibuka 3-4 minggu kemudian. Untuk selanjutnya kita tinggal merawat sampai bibit siap dipindah ke kebun
2. Sambung samping (side grafting)
Pada dasarnya, pelaksanaan sambung samping sama seperti pelaksanaan model sambung pucuk. Sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. Caranya sebagai berikut:
• Batang bawah dipilih yang baik. Ukuran batang atas tidak perlu sama dengan batang bawah, bahkan lebih baik dibuat lebih kecil.
• Pada batang bawah dibuat irisan belah dengan mengupas bagian kulit tanpa mengenai kayu atau dapat juga dengan sedikit menembus bagian kayunya. Irisan kulit batang bawah dibiarkan atau tidak dipotong.
• Batang atas dibuat irisan meruncing pada kedua sisinya. Sisi irisan yang menempel pada batang bawah dibuat lebih panjang menyesuaikan irisan di batang bawah dari sisi luarnya.
• Batang atas tersebut disisipkan pada irisan belah dari batang bawah. Dengan demikian, batang bawah dan batang atas akan saling berhimpitan. Kedua lapisan kambium harus diusahakan agar saling bersentuhan dan bertaut bersama.
• Setelah selesai disambungkan, sambungan tersebut diikat dengan tali plastik. Untuk menjaga agar tidak terkontaminasi atau mengering, sambungan dan batang atas ditutup dengan kantong plastik.
• Setelah batang atas menunjukkan pertumbuhan tunas, kurang lebih 2 minggu setelah penyambungan, kantong plastik serta tali plastik bagian atas sambungan dibuka lebih dulu, sedangkan tali plastik yang mengikat langsung tempelan batang atas dan kulit batang bawah dibiarkan, sampai tautan sambungan cukup kuat.
• Bilamana sudah dipastikan bahwa batang atas dapat tumbuh dengan baik, bagian batang bawah di atas sambungan dipotong. Pemotongan perlu dilakukan supaya tidak terjadi kompetisi kebutuhan zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan lanjutan dari batang atas.
B. Perkembangbiakan Generatif
Perkembangbiakan generatif adalah memperbanyak sutau jenis tanaman dengan menggunakan organ biji, biji atau benih merupakan istilah hampir sama sehingga sering rancuh dalam penggunaannya, biji secara struktural dapat diartikan sama dengan benih yaitu sebagai bakal biji yang dibuahi. Namun secara fungsional berbeda, biji diartikan sebagai unit penyebaran atau perbanyakan tanaman secara alamiah, sedangkan benih diartikan sebagai biji tanaman yang digunakan untuk memperbanyak tanaman dan secara agronomis benih dituntut bermutu tinggi sebab mampu menghasilkan tanaman berproduksi maksimum. Selain itu biji maupun benih dapat diartikan sebagai berikut.
Biji merupakan organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Sedangkan benih secara umum adalah istilah yang dipakai untuk bahan dasar pemeliharaan tanaman atau hewan. Dalam pertanian benih dapat berupa biji maupun tumbuhan kecil hasil perbanyakan aseksual.
Spesies tanaman yang budidayanya menggunakan bahan tanam benih atau biji dalam proses awal tumbuhnya bergantung dari perkecambahan benih. Secara umum perkecamabahan benih atau biji adalah berkembangnya struktur penting dari embrio yang ditandai dengan munculnya struktur tersebut dengasn menembus kulit benih. Untuk memulai perkecambahan umumnya benih dari kebanyakan tanaman akan segera berkecambah pada keadaan lingkungan sama, tetapi ada juga yang mengkehendaki persyaratan khusus.usaha memperbanyak tanaman dengan biji atau benih sering mengalami banyak hambatan,walupun benih atau biji dikecambahkan pada kondisi lingkungan yang sesuai.benih atau biji tersebut sebenarnya hidup karena dapat dipacu untuk berkecambah dengan berbagai perlakuan-perlakuan khusus.Benih atau biji yang demikian dikatakan dormansi yang diartikan sebagai keadaan dimana benih hidup gagal untuk berkecambah dalam keadaan lingkungan yang sesuai untuk Pertumbuhannya.Dormansi benih dapat berlangsung beberapa hari,bulan,musim,bahkan sampai beberapa tahun tergantung beberapa jenis spesies tanaman dan tipe dormansinya.
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pernyataan dan isi diatas dapat kita simpulkan bahwa:
1. Kita dapat mengetahui cara-cara perkembangbiakan tanaman secara vegetatif maupun generatif yang sering dan banyak dilakukan oleh orang.
2. Pekembangbiakan vegetatif dapat dilakukan dengan berbagai cara.beberapa contoh yaitu dengan cara cangkok,stek,penyambungan maupun okulasi sedangkan perkembang biakan generatif tanaman dengan menggunakan biji/benih.
3. Spesies tanaman yang budidayanya menggunakan bahan tanam benih atau biji dalam proses awal tumbuhnya bergantung dari perkecambahan benih. Secara umum perkecamabahan benih atau biji adalah berkembangnya struktur penting dari embrio yang ditandai dengan munculnya struktur tersebut dengasn menembus kulit benih.

3.2 Saran
Untuk mendapatkan suatu jenis tanaman yang memiliki keunggulan tertentu dengan dengan induknya maka cara perkembangbiakan yang dilakukan sebaiknya menggunakan cara cangkok dan setek, sementara untuk menggabungkan kedua sifat yang berbeda sebaiknya cara yang dilakukan adalah dengan cara menyambung atau okulasi dan untuk mengembangbiakan tanaman dalam jumlah yang besar maka disarankan menggunakan cara perkembangbiakan generatif.
Posted by ERINUS MOSIP, S.P Posted on 10.43 | No comments

Kepemimpinan merupakan kunci keberhasilan suatu kegiatan

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan kunci keberhasilan suatu kegiatan. Dalam masa pembangunan dewasa ini tidak hanya pria, tetapi juga perempuan sebagai penerus nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat, serta sebagai pelaku pembaharuan dituntut untuk berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat yang menunjang pembangunan. Untuk dapat menjalankan peranannya sebagai pembaharuan secara berdaya guna dan berhasil guna, perempuan perlu mengembangkan diri menjadi pemimpin yang tangguh tanpa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan serta menjunjung tinggi harkat dan martabatnya.
Pada dasarnya kepemimpinan tidak membedakan siapa pelakunya, apakah dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Bagi kedua-duanyan berlaku persyaratan yang sama untuk menjadi pemimpin yang baik. Namun karena dalam perjalanan sejarah perempuan kurang mendapat kesempatan untuk menjalankan kepemimpinan dalam masyarakat, sekarang kita perlu meningkatkan kuantitas maupun kualitas perempuan sebagai pemimpin. Hal ini dapat diupayakan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap perempuan agar dapat menjadi pemimpin yang baik.
Di negara Indonesia, setiap warga negara diharapkan bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang terkandung dalam Pancasila. Seorang pemimpin di negara Indonesia, diharapkan menjadi contoh teladan serta panutan orang-orang yang dipimpinnya, mau tidak mau harus bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan Pancasila. Ia harus melaksanakan butir-butir yang merupakan nilai-nilai dan norma-norma Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang nyata. Perbuatannya tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang berarti tuntun, bina atau bimbing. Pimpin dapat pula berarti menunjukan jalan yang baik atau benar, tetapi dapat pula berarti mengepalai pekerjaan atau kegiatan. Dengan demikian, kepemimpinan adalah hal yang berhubungan dengan proses menggerakkan, memberikan tuntutan, binaan dan bimbingan, menunjukkan jalan, memberi keteladanan, mengambil resiko, mempengaruhi dan meyakinkan pihak lain, mengarahkan dan masih banyak lagi artinya. Perilaku kepemimpinan merupakan pola perilaku yang digunakan seseorang pada saat mencoba mempengaruhi perilaku orang lain untuk bekerjasama mencapai tujuan tertentu. Kelima macam perilaku kepemimpinan tersebut sama efektif, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, tergantung pada kemampuan pemimpin untuk menerapkan perilakunya sesuai dengan tingkat perkembangan pengikut dalam pelaksanaan tugas tertentu dan sifat masalah yang harus dipecahkan dan keputusan yang diambil. Setiap jamanmemilikipemimpinbesar. Perubahan sosial terjadi karena para pemimpin besar memulai dan memimpin perubahan dan menghalangi orang lain yang berusaha membawa masyarakat kearah yang berlawanan (James, 1980). Pemimpinakan berhasil apabila ia mampu menunjuk-kan kepada bawahannya apa yang akan diperoleh sebagai reward dan juga jalur perilaku (path) yang harus dilakukan bawahan untuk memperoleh reward tersebut(Jones, Evans, 1970).


1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud tentang kepemimpinan
2. Untuk mengetahui tentang kriteria dan karaketristik pemimpin yang baik
3. Agar mahasiswa dapat mengerti dan megetahui fungsi dari seirang pemimpin dan lebih menghargai peranan pemimpin di tengah anggotanya.

BAB 2. PEMBAHASAN
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain :
1. Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)
2. Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kel-ompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial
3. Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kel-ompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.
4. Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk mem-peroleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerjasama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah
5. Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggo-ta kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.
Kepemimpian dipengaruhi oleh situasi dimana faktor-faktor tertentu dari situasi menentukan ciri-ciri pemimpin yang sesuai untuk situasi tersebut. Munculnya pemimpin dalam suatu organisasi tergantung pada aspek karakteristik birokrasi, organisasi informal, karakteristik hubungan antara atasan bawahan, rancangan tugas yang memungkinkan individu mencapai aktualisasi diri dan aspek kesesuaian antara sasaran organisasi dengan sasaran individual para anggotanya (Bennis, 1981). Karakteristik Pemimpin (Field-DynamicLaw -Brown, 1936):
􀂄 Diakuisebagaianggotakelompok
􀂄 Memilikihubunganinterpersonalyang kuat
􀂄 Beradaptasidenganstrukturhubunganyang sudah ada
􀂄 Memahamikearahaman strukturakan berubah
􀂄 Sadar bahwa makin kuat kepemimpinan maka makna inti tidak bebas pemim-pin itu sendiri.
Fungsi kepemimpinan adalah menggerakkan orang yang dipimpin menuju tercapainya tujuan. Agar dapat menanamkan kepercayaan pada orang yang dipimpinnya dan menyadarkan bahwa mereka mampu berbuat sesuatu dengan baik. Disamping itu, pemimpin harus memiliki pikiran, tenaga dan kepribadian yang dapat menimbulkan kegiatan dalam hubungan antar manusia. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan, maka terdapat aturan atau norma yang mengatur tentang kepemimpinan, yang disebut dengan etika kepemimpinan. Etika dimaksudkan sebagai pancaran moral yang baik, yang dimiliki seseorang, sehingga sehari-hari ia menampilkan tutur kata dan perbuatan yang dapat diterima oleh lingkungannya. Dengan demikian, moral dan etika merupakan suatu pengertian filosofis yang mendasar yang mempersoalkan nilai dalam hubungannya dengan sikap-sikap yang benar dan keliru serta motif-motif, tujuan-tujuan baik atau buruk suatu perbuatan. Dari hasil penelitian para ahli sudah banyak terbukti bahwa kegagalan organisasi tidak semata-mata terletak pada kurangnya pengetahuan, tetapi banyak yang disebabkan karena tidak adanya etika dalam organisasi tersebut. Keadaan ini mengakibatkan tidak adanya hubungan baik antara yang menggerakkan (pemimpin) dan yang digerakkan (anggota-anggotanya). Perbuatan tidak etis sebagai pertanda kelemahan moral tadi akan lebih parah akibatnya bila dimulai oleh pihak yang menggerakkan (pemimpin). Dalam keadaan demikian, akan mudah timbul penyimpangan, penyalahgunaan wewenang maupun tindakan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Etika kepemimpinan yang kita anut adalah etika kepemimpinan Pancasila, yang merupakan landasan bagi pemimpin untuk selalu : berwawas seorang pemimpin agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, dilandasi oleh beberapa kriteria sebagai berikut : 1. Selalu melandaskan diri pada nilai-nilai etis (kesulitan dan kebaikan). 2. Memilki satu atau beberapa kelebihan dalam pengetahuan, keterampilan, sosial, teknis maupun pengalaman. 3. Mampu melakukan kewajiban dan tugas dengan baik. 4. Memiliki sifat dewasa dan susila sehingga dapat bertanggung jawab secara etis, maupun membedakan hal yang baik dan buruk serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. 5. Memiliki kemampuan mengendalikan diri yaitu mengendalikan pikiran, emosi, keinginan dan segenap perbuatan yang disesuaikan dengan norma-norma/ kaidah-kaidah kebaikan. Hal ini terpencar sebagai sikap moral yang baik dan bertanggung jawab. 6. Mentaati perintah-perintah dan larangan-larangan.an ke depan, rasional, memiliki keberanian, memiliki modal untuk membela kebenaran, tegas tetapi luwes dan bertanggung jawab atas perbuatan yang dipimpinnya.
Dalam teori kepemimpinan, terbagi atas beberapa tipe yang memiliki ciri dan karakter yang berbeda, antara lain :
1. Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan keakuannya, antara lain dalam bentuk :
a. kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
b. pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
c. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain :
 Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
 dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
 bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
 menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan
oleh bawahan.
2. Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masyarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.
3. Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
4. Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi. Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :
a. Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
b. Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.
c. Status quo organisasional tidak terganggu
d. Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.
e. Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.
5. Tipe Demokratik
a. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koor-dinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
b. Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
c. Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
d. Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia
e. Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kepemimpinan pada hakekatnya merupakan suatu proses edukatif. Ini berarti bahwa seorang pemimpin seyogyanya tidak sekedar mempengaruhi aktivitas pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan tertentu, tetapi juga berusaha mengembangkan kemampuan dan kemauan pengikutnya dalam rangka mewujudkan kemandiriannya. Seorang pemimpin dapat menjalankan fungsinya dengan baik, dilandasi oleh beberapa kriteria sebagai berikut : 1. Selalu melandaskan diri pada nilai-nilai etis (kesulitan dan kebaikan). 2. Memilki satu atau beberapa kelebihan dalam pengetahuan, keterampilan, sosial, teknis maupun pengalaman. 3. Mampu melakukan kewajiban dan tugas dengan baik. 4. Memiliki sifat dewasa dan susila sehingga dapat bertanggung jawab secara etis, maupun membedakan hal yang baik dan buruk serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. 5. Memiliki kemampuan mengendalikan diri yaitu mengendalikan pikiran, emosi, keinginan dan segenap perbuatan yang disesuaikan dengan norma-norma/ kaidah-kaidah kebaikan. Hal ini terpencar sebagai sikap moral yang baik dan bertanggung jawab. 6. Mentaati perintah-perintah dan larangan-larangan.

3.2 Saran
Kemampuan dan kemajuan kepemimpinan sangat dibutuhkan bagi Indonesia yang sedang membangun. Kepemimpinan Pancasila dengan pola kepemimpinan modern, yaitu berorientasi jauh ke depan, berlandaskan pola pikir ilmiah dan berpegang pada prinsip efisien dan efektif. Seorang pemimpin Pencasilais adalah pemimpin yang beretik.